Pemprov PBPendidikan

Pengeroyokan Siswa di SMA Taruna Dipicu Ketersinggungan, Kasus Ditangani Polisi

MANOKWARI, JAGATPAPUA.com — Dugaan kasus pengeroyokan antar siswa di SMA Taruna Kasuari Nusantara Papua Barat dipicu persoalan ketersinggungan. Hal tersebut disampaikan Kepala Sekolah, Yusuf Ragainaga, saat memberikan keterangan kepada awak media.

“Pemicu awalnya hanya karena ketersinggungan antar siswa,” ujarnya singkat.

Ia menjelaskan, saat ini kasus tersebut telah ditangani oleh pihak kepolisian dan masih dalam tahap penyelidikan. Pihak sekolah menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada aparat untuk mengungkap fakta serta pihak-pihak yang terlibat.

“Prosesnya sudah di kepolisian, kita menunggu hasil pemeriksaan dan keterangan para saksi,” katanya.

Sebagai langkah internal, pihak sekolah telah mengambil tindakan terhadap sejumlah siswa yang diduga terlibat. Mereka tidak lagi diperkenankan melanjutkan pendidikan dalam sistem asrama karena dinilai tidak memenuhi ketentuan sebagai peserta didik di sekolah berbasis boarding.

“Yang terlibat akan dikembalikan sesuai aturan sekolah, karena dianggap tidak layak berada di lingkungan asrama,” tegasnya.

Di sisi lain, pihak sekolah juga terus memantau kondisi para korban. Sebelumnya dilaporkan terdapat delapan siswa yang menjadi korban dan sempat menjalani perawatan di rumah sakit. Namun, seluruh korban kini telah kembali dalam kondisi membaik.

Kepala sekolah menegaskan, penanganan kasus ini tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dengan mempertimbangkan kondisi pelaku maupun korban, sembari menunggu hasil resmi dari pihak kepolisian.

“Data pasti, termasuk jumlah siswa yang terlibat, akan diketahui setelah hasil pemeriksaan selesai,” ujarnya.

Sekolah juga memastikan akan bersikap kooperatif selama proses hukum berlangsung, termasuk mendampingi siswa apabila diperlukan dalam pemeriksaan.

Selain itu, pihak sekolah dijadwalkan menggelar pertemuan dengan orang tua siswa, khususnya kelas X, guna membahas situasi yang terjadi serta langkah penanganan ke depan. Para siswa yang sempat dipulangkan direncanakan kembali ke sekolah pada awal pekan depan, dengan tetap mempertimbangkan kondisi psikologis mereka.

Peristiwa ini disebut sebagai kejadian pertama dengan skala besar di lingkungan sekolah tersebut. Ke depan, pihak sekolah berkomitmen melakukan evaluasi menyeluruh, terutama terkait sistem pembinaan serta pengawasan di lingkungan asrama.

“Hasil dari kejadian ini akan menjadi bahan evaluasi agar peristiwa serupa tidak terulang,” tutupnya.(jp/jn).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Hati-hati salin tanpa izin kena UU no.28 Tentang Hak Cipta