Disdik Biak Validasi Siswa Terdampak Ledakan Bom PD II, Biaya Sekolah Digratiskan
Sebagai bentuk dukungan jangka panjang, Dinas Pendidikan bersama pihak sekolah akan membebaskan seluruh biaya pendidikan bagi siswa terdampak.
BIAK, JAGATPAPUA.com – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Biak Numfor segera melakukan validasi data siswa yang terdampak ledakan bom peninggalan Perang Dunia II yang terjadi di kawasan Kompleks Perikanan, Kabupaten Biak Numfor.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Biak Numfor, Kamaruddin, S.Pd, mengatakan pihaknya akan menurunkan tim setelah lokasi kejadian dinyatakan aman oleh aparat keamanan.
“Begitu lokasi dinyatakan aman oleh pihak keamanan, kami akan menurunkan tim dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk memvalidasi data siswa yang terdampak bencana tersebut,” ujar Kamaruddin kepada awak media, Minggu (7/6/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan data awal yang diperoleh dari Dinas Sosial Kabupaten Biak Numfor, terdapat 13 siswa dari jenjang TK, SD, hingga SMP yang terdampak langsung akibat peristiwa tersebut.
“Setelah menerima data mentah dari Dinas Sosial, tim kami melakukan pendataan dan validasi. Hasil sementara menunjukkan ada 13 siswa terdampak, mulai dari tingkat TK, SD hingga SMP,” katanya.
Menurut Kamaruddin, dampak yang dialami para siswa cukup beragam. Salah seorang siswa SD Inpres Fandoi dilaporkan meninggal dunia akibat ledakan tersebut.
Selain itu, terdapat dua siswa yang kehilangan kedua orang tuanya sehingga menjadi yatim piatu, sementara beberapa siswa lainnya kehilangan salah satu orang tua dan sebagian mengalami luka-luka.
“Dampak paling berat adalah meninggalnya seorang siswa SD Inpres Fandoi. Ada juga dua siswa yang kini menjadi yatim piatu karena kedua orang tuanya menjadi korban. Selain itu ada siswa yang kehilangan ayahnya, sementara lainnya mengalami luka-luka dan masih menjalani perawatan,” jelasnya.
Untuk memastikan hak pendidikan para siswa tetap terpenuhi, Dinas Pendidikan telah mengumpulkan seluruh kepala sekolah yang siswanya terdampak guna memberikan sejumlah arahan dan langkah penanganan.
Kamaruddin menegaskan, sekolah diminta terus memantau kondisi para siswa agar tidak putus sekolah akibat musibah yang dialami.
“Anak-anak ini harus terus diikuti dan diperhatikan ke mana pun mereka berada. Jangan sampai ada yang putus sekolah, terutama mereka yang kehilangan orang tua,” tegasnya.
Selain itu, pihak sekolah diminta memberikan kebijakan khusus terkait pelaksanaan ujian sekolah bagi siswa terdampak. Menurutnya, kondisi psikologis siswa harus menjadi pertimbangan utama.
“Saat ini masih berlangsung ujian sekolah. Kami minta jangan mempersulit mereka. Jika memungkinkan bisa mengikuti ujian susulan. Namun apabila hingga jadwal ujian susulan mereka masih mengalami trauma, jangan dipaksa. Nilai akhir dapat menggunakan hasil ulangan harian dan penilaian yang sudah ada,” katanya.
Ia juga meminta seluruh kepala sekolah dan guru untuk melaksanakan kegiatan trauma healing guna membantu pemulihan psikologis para siswa pasca tragedi tersebut.
Sebagai bentuk dukungan jangka panjang, Dinas Pendidikan bersama pihak sekolah akan membebaskan seluruh biaya pendidikan bagi siswa terdampak hingga menyelesaikan pendidikan di sekolah masing-masing.
“Kami meminta seluruh kepala sekolah membebaskan biaya sekolah bagi anak-anak yang terdampak sampai mereka tamat. Sekolah juga akan membantu kebutuhan seragam, sementara Dinas Pendidikan akan memberikan bantuan perlengkapan belajar,” tandasnya.(jp/fir).
























