STIH Manokwari Apresiasi Program Gemar Membaca, Dorong Mahasiswa Kurangi Ketergantungan AI
MANOKWARI, JAGATPAPUA.com — Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Manokwari menyampaikan apresiasi tinggi kepada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Papua Barat atas pelaksanaan kegiatan pembudayaan gemar membaca yang dinilai sangat relevan di tengah menurunnya minat baca, khususnya di kalangan mahasiswa.
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan STIH Manokwari, Dr. Isak Samuel Kijne Mansawan, S.H., M.H., pada kegiatan yang berlangsung Selasa (21/4/2026).
Ia menilai, saat ini budaya membaca, terutama membaca buku fisik, mengalami penurunan signifikan akibat maraknya penggunaan media sosial di kalangan generasi muda. Kondisi tersebut berdampak pada kebiasaan mahasiswa yang semakin jarang memanfaatkan buku sebagai sumber utama referensi akademik.
“Faktanya, sekarang ini kita sangat jarang melihat mahasiswa membuka buku fisik. Mereka lebih banyak mengandalkan media sosial maupun sumber digital yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Menurutnya, program pembudayaan gemar membaca yang diinisiasi Dinas Kearsipan dan Perpustakaan menjadi langkah strategis untuk mengembalikan minat baca mahasiswa serta mendorong penggunaan sumber referensi yang lebih kredibel.
Pihak kampus, lanjut Mansawan, juga terus mengarahkan mahasiswa agar tidak bergantung sepenuhnya pada teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), melainkan tetap menjadikan buku sebagai rujukan utama dalam proses pembelajaran.
“Di dalam buku, sumbernya jelas, terverifikasi, dan bisa dipertanggungjawabkan secara akademik. Ini yang terus kami tekankan kepada mahasiswa,” katanya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat memberikan motivasi bagi mahasiswa untuk lebih aktif membaca dan mengembangkan diri dalam proses belajar mengajar, baik dalam perkuliahan maupun saat mengerjakan tugas.
Selain itu, STIH Manokwari juga mendorong agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan, serta diikuti dengan penyediaan buku-buku terbaru yang relevan dengan kebutuhan akademik mahasiswa, khususnya di bidang hukum.
“Kami berharap ada dukungan buku-buku yang linier dengan mata kuliah di kampus, termasuk buku-buku yang sulit diakses, sehingga mahasiswa memiliki referensi yang layak dan berkualitas,” tambahnya.
Tak hanya itu, pihaknya juga mengusulkan agar Dinas Kearsipan dan Perpustakaan mengembangkan program inovatif lain, seperti lomba literasi di tingkat SMA dan perguruan tinggi, guna meningkatkan minat baca di kalangan pelajar dan mahasiswa.
Selain kegiatan kompetitif, Mansawan juga mengusulkan pembangunan pojok baca di ruang-ruang publik sebagai upaya memperluas akses literasi bagi masyarakat.
“Pojok baca di tempat pelayanan publik atau ruang umum sangat penting, agar bukan hanya mahasiswa, tetapi masyarakat luas juga dapat memperoleh pengetahuan dengan mudah,” tutupnya. (jp/jn)













