DPR PBKab ManokwariPendidikanPolitikProvinsi Papua Barat

Sammy Saiba: Pemuda Harus Jadi Kekuatan Perubahan, Bukan Sebatas Penonton

Masa depan KNPI dan Papua Barat tidak semata-mata ditentukan oleh siapa yang menduduki kursi kepemimpinan, melainkan oleh seberapa besar kontribusi yang diberikan organisasi dan generasi muda bagi masyarakat.

MANOKWARI, JAGATPAPUA.com– Ketua DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Papua Barat, Dr. Sammy D. Saiba, mengingatkan bahwa pemuda harus mengambil peran aktif dalam menentukan arah perubahan bangsa.

Hal itu diungkapkan Sammy Saiba dalam Syukuran dan Talkshow Kepemudaan dalam rangkaian HUT ke-53 KNPI, Hari Sumpah Pemuda, HUT Ke-81 RI, HUT ke-27 Papua Barat, yang digelar Sabtu (31/10/2026) di Manokwari.

Menurut dia, sejarah Indonesia menunjukkan bahwa pemuda selalu hadir sebagai kekuatan penting dalam setiap momentum perubahan, mulai dari Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, hingga Proklamasi

Kemerdekaan 1945. Ia menegaskan, sejarah bukan sekadar rangkaian peristiwa yang dikenang setiap tahun, melainkan pelajaran tentang keberanian, daya kritis, dan kepekaan generasi muda dalam membaca keadaan.

“Sesungguhnya kita sedang berbicara tentang kekuatan perubahan. Sejarah bangsa Indonesia membuktikan bahwa pemuda selalu hadir dalam setiap momentum, baik dalam kondisi yang baik maupun dalam situasi yang buruk,” kata Sammy.

Ia menyinggung peran generasi muda dalam peristiwa menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Desakan kelompok pemuda kepada Soekarno dan Mohammad Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan, menurut dia, menjadi bukti bahwa perubahan besar membutuhkan keberanian untuk mengambil sikap.

Sammy mengatakan, KNPI memang baru lahir pada 23 Juli 1973, jauh setelah Indonesia merdeka. Namun, kontribusi pemuda terhadap perjalanan bangsa telah berlangsung jauh sebelum organisasi itu terbentuk.

Karena itu, ia meminta KNPI tidak kehilangan relevansi sejarahnya. Organisasi kepemudaan tersebut, kata dia, semestinya menjadi rumah besar yang mampu menghimpun berbagai organisasi, latar belakang, serta pandangan politik dalam satu semangat persatuan.

Persoalan fragmentasi KNPI menjadi salah satu perhatian utama Sammy. Ia menyebut perpecahan kepemimpinan di tingkat pusat sebagai persoalan serius yang berpotensi melemahkan gerakan kepemudaan nasional.

Menurut Sammy, ego dan perebutan posisi strategis telah menjadi salah satu pemicu konflik. Ia mengingatkan bahwa banyaknya struktur kepemimpinan justru dapat membuat organisasi kehilangan arah dan tidak mampu bergerak dengan agenda bersama.

Di Papua Barat, ia mengklaim KNPI tetap berada dalam satu kepemimpinan dan tidak terpecah menjadi beberapa kubu. Kondisi itu, menurut dia, harus dipertahankan agar Papua Barat dapat menjadi bagian dari upaya menyatukan kembali gerakan KNPI secara nasional.

Sammy mengatakan, pihaknya telah mendorong proses rekonsiliasi hingga ke tingkat pemerintah pusat. Ia berharap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dapat mengambil peran mempertemukan para tokoh pemuda, organisasi kemasyarakatan pemuda, serta berbagai kepengurusan KNPI untuk membicarakan penyatuan kembali.

“Biarlah KNPI di pusat sana retak menjadi lima, enam, atau tujuh. Tetapi di Papua Barat, saya menjaga supaya tidak ada keretakan. Kita tetap satu,” ujarnya.

Ia juga membandingkan posisi KNPI pada masa lalu dengan kondisi sekarang. Sebelum 2022, menurut Sammy, KNPI dikenal sebagai organisasi kader yang melahirkan banyak pemimpin daerah. Jabatan ketua KNPI bahkan pernah menjadi posisi strategis yang diperhitungkan dalam perjalanan kepemimpinan politik.

Kini, ia menilai konflik internal telah menggerus kepercayaan terhadap organisasi. Padahal, persatuan pemuda menjadi salah satu modal penting untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.

Sammy mengingatkan bahwa melemahnya generasi muda akan berdampak langsung terhadap masa depan bangsa. Karena itu, ia meminta seluruh elemen kepemudaan tidak terjebak dalam konflik organisasi dan perebutan jabatan.

Dalam refleksinya, Sammy menekankan tiga hal penting: menjaga persatuan, memperkuat keberpihakan terhadap persoalan masyarakat, dan menempatkan jabatan sebagai amanah pengabdian.

Baginya, KNPI tidak boleh hanya hadir dalam kegiatan seremonial. Organisasi pemuda harus mampu menyampaikan kritik, memperjuangkan kepentingan generasi muda, serta menawarkan solusi terhadap berbagai persoalan pembangunan.

Ia juga mendorong pemuda memanfaatkan perkembangan teknologi untuk menyampaikan aspirasi. Ketika ruang penyampaian pendapat tertutup, menurut dia, masih tersedia saluran lain yang dapat digunakan untuk menyuarakan kebenaran dan kepentingan publik.

“Jabatan dalam organisasi bukan tujuan akhir. Itu adalah amanah untuk bekerja, mengabdi, dan memberikan manfaat,” kata Sammy.

Lebih jauh, ia mengingatkan kembali sejarah perjuangan pembentukan Provinsi Papua Barat. Dalam proses tersebut, generasi muda dan tokoh-tokoh pemuda turut mengambil bagian dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat hingga terbentuknya provinsi tersebut.

Karena itu, ia meminta generasi muda Papua Barat tidak berhenti pada kebanggaan terhadap sejarah perjuangan. Tantangan berikutnya adalah memastikan pemerintahan daerah berjalan baik dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sammy menutup refleksinya dengan pesan bahwa pemuda tidak boleh menempatkan diri sebagai penonton dalam perjalanan bangsa. Generasi muda, menurut dia, telah memiliki catatan sejarah sejak sebelum 1928 dan harus melanjutkan peran tersebut dalam menghadapi tantangan masa depan.

“Pemuda bukan penonton. Kalau hari ini pemuda diam, tidak bergerak, dan membungkam mulut terhadap kebenaran, maka kita tidak akan mencapai cita-cita Indonesia 2045,” ujarnya.

Ia pun mengingatkan bahwa regenerasi kepemimpinan merupakan keniscayaan. Kepemimpinan hari ini pada akhirnya akan diserahkan kepada generasi berikutnya. Namun, keberhasilan estafet tersebut bergantung pada kesiapan pemuda untuk menjaga persatuan, membangun kapasitas, dan melanjutkan perjuangan.

Bagi Sammy, masa depan KNPI dan Papua Barat tidak semata-mata ditentukan oleh siapa yang menduduki kursi kepemimpinan, melainkan oleh seberapa besar kontribusi yang diberikan organisasi dan generasi muda bagi masyarakat.(jp/mar).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Hati-hati salin tanpa izin kena UU no.28 Tentang Hak Cipta