Prof. Budi Djatmiko Resmi Lantik Filep Wamafma Sebagai Ketua APTISI Papua Barat
Pengurus APTISI Harus membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah agar pengembangan sumber daya manusia Papua Barat menjadi agenda bersama.

MANOKWARI, JAGATPAPUA.com— Dr. Filep Wamafma resmi memimpin Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Provinsi Papua Barat untuk masa bakti 2026–2031. Pelantikan dilakukan Ketua Umum APTISI Pusat, Prof. Dr. Ir. H. M. Budi Djatmiko, di Swiss-Belhotel Manokwari, Rabu, 28 Oktober 2026.
Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, serta pimpinan perguruan tinggi swasta di Papua Barat menghadiri pelantikan tersebut.
Filep terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Luar Biasa APTISI Papua Barat pada 27 Oktober 2026. Ia menggantikan kepemimpinan sebelumnya yang berakhir setelah Ketua APTISI Papua Barat periode terdahulu, Nataniel Mandacan, meninggal dunia.
Penjabat Ketua APTISI Papua Barat, Roberth Kurniawan Ruslak Hammar, mengatakan musyawarah luar biasa digelar untuk mengisi kekosongan kepemimpinan. Menurut dia, langkah tersebut sesuai dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi karena masa jabatan sebelumnya masih menyisakan sekitar empat tahun.
“Muslub ini digelar untuk mengisi kefakuman kepemimpinan akibat berpulangnya almarhum Dr. Drs. Nataniel Mandacan,” kata Roberth dalam laporannya.
Musyawarah tersebut diikuti tujuh dari sebelas perguruan tinggi swasta yang berada di bawah Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah XIV Papua. Setelah pemilihan, tim formatur menyusun kepengurusan baru dengan melibatkan perwakilan dari sebelas kampus swasta di Papua Barat.
Kampus-kampus itu tersebar di Kabupaten Manokwari, Teluk Bintuni, Fakfak, dan Kaimana. Keterwakilan tersebut diharapkan memperkuat koordinasi antarperguruan tinggi dalam menjalankan program organisasi.
Filep Wamafma, yang juga menjabat sebagai Rektor Institut Hukum dan Teknologi Pembangunan Papua serta Wakil Ketua III Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, kini menghadapi tantangan untuk memperkuat peran perguruan tinggi swasta dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Papua Barat.
Ketua Umum APTISI Pusat Budi Djatmiko menekankan bahwa peningkatan mutu pendidikan tinggi tidak dapat dilakukan oleh kampus secara sendiri-sendiri. Ia meminta pengurus APTISI membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah agar pengembangan sumber daya manusia Papua Barat menjadi agenda bersama.
“Kita yang ada di sini harus memikirkan bagaimana SDM Papua Barat jauh lebih bagus,” ujar Budi.
Menurut dia, pendidikan harus menjadi instrumen untuk meningkatkan harkat dan martabat masyarakat Papua Barat. Karena itu, pengelolaan perguruan tinggi perlu diarahkan pada upaya menghasilkan sumber daya manusia yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Budi juga mengingatkan pimpinan perguruan tinggi agar tidak mengabaikan perkembangan teknologi. Ia menyoroti kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta teknologi brain-computer interface (BCI) yang dinilai berpotensi mengubah sistem pembelajaran dan pengelolaan pendidikan tinggi.
Ia meminta kampus mulai berbenah, meningkatkan kinerja, dan memanfaatkan teknologi untuk menjaga relevansi pendidikan di tengah perubahan zaman.
“Perubahan zaman itu pasti. Kampus-kampus harus siap melakukan reformasi dan memperbaiki kinerja dengan memanfaatkan bantuan kecerdasan buatan agar tetap relevan di masa depan,” kata Budi.
Pelantikan pengurus baru APTISI Papua Barat menjadi momentum bagi perguruan tinggi swasta di wilayah tersebut untuk memperkuat kerja sama. Tantangannya tidak hanya menyangkut tata kelola institusi, tetapi juga kemampuan kampus menyiapkan lulusan yang kompeten di tengah perubahan teknologi dan kebutuhan pembangunan daerah.(jp/alb).





