Jafar Werfete: Belajar dari Afrika Selatan, Papua Barat Jajaki Pengembangan Wisata Alam
Salah satu peluang yang dijajaki adalah promosi paket wisata Papua Barat melalui jaringan agen perjalanan Afrika Selatan.

MANOKWARI, JAGATPAPUA.com – Pemerintah Provinsi Papua Barat menjajaki kerja sama dengan Afrika Selatan untuk mengembangkan sektor pariwisata, khususnya wisata alam berbasis keanekaragaman hayati dan pengelolaan taman nasional.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Papua Barat, Jafar Werfete mengatakan, pertemuan tersebut menjadi langkah awal untuk membuka peluang kerja sama di sejumlah sektor pembangunan, termasuk pariwisata.
Menurut dia, komunikasi lanjutan akan dilakukan melalui sekretaris Kedutaan Besar Afrika Selatan yang turut dalam kunjungan tersebut. Pelaku industri pariwisata, operator perjalanan, dan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) juga mulai menindaklanjuti pembicaraan awal tersebut.
“Saat ini, Pemerintah Provinsi Papua Barat masih menunggu kepastian jadwal penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) antara Gubernur Papua Barat dan Kedutaan Besar Afrika Selatan,”kata Jafar Werfete kepada Awak media, Selasa 27 Oktober 2026 di Bandara Rendani Manokwari.
Ia menyebutkan, arahan untuk menindaklanjuti rencana kerja sama tersebut telah disampaikan kepada Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda).
Setelah MoU ditandatangani, kerja sama akan ditindaklanjuti melalui perjanjian teknis yang melibatkan berbagai pihak. Skema yang memungkinkan antara lain kemitraan antarpelaku usaha (business to business/B2B), kerja sama pemerintah dengan dunia usaha, serta kerja sama antarpemerintah.
Salah satu peluang yang dijajaki adalah promosi paket wisata Papua Barat melalui jaringan agen perjalanan Afrika Selatan. Selain itu, kerja sama juga berpotensi mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia, terutama dalam pengelolaan taman nasional dan pengembangan wisata berbasis keanekaragaman hayati.
Afrika Selatan dinilai memiliki pengalaman dalam mengelola taman nasional serta mengembangkan wisata safari dan pengamatan satwa liar. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi Papua Barat dalam mengoptimalkan potensi wisata alam dengan tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan dan konservasi.
Papua Barat sendiri memiliki kekayaan biodiversitas yang menjadi modal penting dalam pengembangan pariwisata, termasuk burung cenderawasih dan beragam jenis burung endemik yang berpotensi menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara.
Namun, pengembangan potensi tersebut membutuhkan perencanaan dan pengelolaan yang terarah, mulai dari perlindungan habitat, peningkatan kualitas layanan wisata, hingga penguatan kompetensi tenaga pariwisata lokal.
Meski peluang kerja sama telah mulai dibahas, realisasi program masih menunggu kepastian penandatanganan MoU. Pemerintah Provinsi Papua Barat berharap kesepakatan tersebut dapat menjadi landasan bagi penyusunan program teknis dan pembentukan kemitraan konkret antara pelaku pariwisata kedua pihak.
Melalui kerja sama ini, Papua Barat diharapkan tidak hanya mampu memperluas promosi destinasi wisata ke pasar internasional, tetapi juga memperkuat pengelolaan wisata alam yang berkelanjutan dengan tetap menjaga kelestarian kekayaan hayati daerah.
Diketahui pada Senin 26 Oktober 2026 Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan melakukan pertemuan dengan Duta Besar Republik Afrika Selatan untuk Indonesia, Mpetjane Kgaogelo Lekgoro, untuk menjejaki kerja sama di sejumlah sektor pembangunan.(jp/ask)

