Penyebab Kematian Yanto Idorway Tunggu Hasil Autopsi, Kapolres Ungkap Kronologi Penemuan Jenazah
Pihak kepolisian belum dapat menyimpulkan penyebab kematian karena seluruh fakta medis masih menunggu hasil pemeriksaan forensik.
MANOKWARI, JAGATPAPUA.com – Kapolres Pegunungan Arfak, AKBP Bernadus Okoka, menegaskan bahwa penyebab pasti meninggalnya presenter TVRI Papua Barat, Yanto Idorway, baru dapat dipastikan setelah tim forensik menyelesaikan proses autopsi terhadap jenazah korban.
Menurut Kapolres, pihak kepolisian belum dapat menyimpulkan penyebab kematian karena seluruh fakta medis masih menunggu hasil pemeriksaan forensik.
“Untuk saat ini kami belum bisa menyampaikan penyebab kematian korban karena masih menunggu hasil autopsi. Kami berharap masyarakat bersabar hingga tim forensik menyelesaikan pemeriksaan dan menyampaikan hasilnya secara resmi,” kata Bernadus Okoka di Manokwari, Senin (27/7/2026) malam.
Kapolres kemudian menjelaskan kronologi penemuan jenazah Yanto Idorway di Sungai Air Terjun Memti, Kampung Sisrang, Kabupaten Pegunungan Arfak.
Ia mengatakan, pada Minggu (26/7/2026), dirinya menerima laporan dari Kasat Reskrim Polres Pegunungan Arfak mengenai adanya bau menyengat yang berasal dari sebuah celah batu atau gua di lokasi kejadian.
Menindaklanjuti laporan tersebut, polisi berkoordinasi dengan masyarakat Kampung Sisrang untuk kembali melakukan pembendungan aliran sungai pada Senin pagi (27/7/2026). Selain membendung aliran sungai, warga juga menggunakan alat tradisional yang dikenal dengan sebutan kalaway untuk menyisir bagian dalam celah batu.
“Setelah masyarakat membendung aliran sungai, salah seorang warga menggunakan kalaway untuk menusuk ke arah celah batu. Saat alat itu ditarik, terlihat sepotong pakaian disertai bau yang sangat menyengat. Setelah dipastikan, kami langsung melakukan proses evakuasi jenazah korban,” jelas Kapolres.
Jenazah Yanto ditemukan di dalam celah batu yang berada sekitar 10 hingga 15 meter dari titik curam ketiga di aliran Sungai Memti.
Meski berada di lokasi yang cukup sulit dijangkau, proses evakuasi berlangsung tanpa kendala. Personel gabungan bersama masyarakat berhasil mengangkat jenazah menggunakan tali dengan peralatan seadanya.
“Puji Tuhan proses evakuasinya tidak terlalu sulit. Dengan sarana yang ada, kami berhasil mengangkat korban dari celah batu menggunakan tali. Setelah itu jenazah langsung dievakuasi ke RSUD Manokwari untuk menjalani visum dan autopsi,” katanya.
Terkait kondisi jenazah saat ditemukan, Kapolres mengaku belum dapat memberikan penjelasan secara rinci karena masih menunggu hasil pemeriksaan medis.
Namun, secara kasat mata, kondisi tubuh korban masih dalam keadaan utuh meski telah berada di dalam air selama kurang lebih sembilan hari.
“Secara visual tubuh korban masih utuh. Ada beberapa luka lecet yang terlihat, namun apakah luka tersebut terjadi sebelum atau sesudah korban meninggal, semuanya akan dijelaskan oleh dokter melalui hasil visum dan autopsi,” ujarnya.
Kapolres menambahkan, proses autopsi dilakukan di RSUD Manokwari atas permintaan keluarga korban. Awalnya, jenazah direncanakan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk pemeriksaan forensik, namun keluarga meminta agar autopsi dilaksanakan di RSUD Manokwari sehingga permintaan tersebut dipenuhi.
Di akhir keterangannya, AKBP Bernadus Okoka menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat Kampung Sisrang, para tokoh adat, tokoh masyarakat, serta seluruh unsur yang terlibat dalam proses pencarian korban sejak hari pertama hingga akhirnya jenazah berhasil ditemukan.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Kampung Sisrang, para tokoh adat, tokoh masyarakat, dan semua pihak yang telah membantu proses pencarian. Dukungan, kerja sama, dan doa dari seluruh masyarakat Papua Barat menjadi kekuatan hingga akhirnya korban dapat ditemukan,” ucapnya.(jp/alb).

