Pemprov Papua Barat Gelar Persemayaman Kedinasan Dr. Nataniel Mandacan, Suasana Haru Iringi Pelepasan
Kematian bukan sekadar akhir perjalanan hidup, melainkan pengingat bahwa kehidupan manusia memiliki batas sehingga setiap waktu yang diberikan Tuhan harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

MANOKWARI, JAGATPAPUA.com – Pemerintah Provinsi Papua Barat menggelar ibadah persemayaman dan pelepasan jenazah almarhum Dr. Nataniel D. Mandacan, M.Si., secara kedinasan di rumah duka, Swafen Bahari, Manokwari, Senin (6/7/2026).
Prosesi penghormatan terakhir itu berlangsung khidmat dan penuh haru sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian almarhum kepada daerah, bangsa, dan negara.

Ibadah tersebut dihadiri Gubernur Papua Barat Drs. Dominggus Mandacan beserta istri, Wakil Gubernur Papua Barat beserta istri, Kapolda Papua Barat, Sekretaris Daerah Papua Barat beserta istri, para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta ratusan aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Provinsi Papua Barat.
Turut hadir Bupati Manokwari beserta istri, Wakil Bupati Manokwari beserta istri, Sekretaris Daerah Kabupaten Manokwari Jan Ayomi, tokoh adat, tokoh agama, keluarga besar almarhum, dan masyarakat yang datang memberikan penghormatan terakhir.
Dalam khotbahnya, Pdt. Sadrak Simbiak mengajak seluruh pelayat menjadikan kepergian almarhum sebagai momentum refleksi mengenai makna kehidupan, pengabdian, dan tanggung jawab manusia di hadapan Tuhan.
Mengutip Mazmur 116:15, “Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya,” Pdt. Sadrak menegaskan bahwa kematian bukan sekadar akhir perjalanan hidup, melainkan pengingat bahwa kehidupan manusia memiliki batas sehingga setiap waktu yang diberikan Tuhan harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
“Keberhargaan hidup justru ada karena hidup ini terbatas. Jika tidak ada kematian, manusia tidak akan menghargai kehidupan, relasi, pendidikan, maupun karya yang dilakukan selama hidup,” ujarnya.
Ia menjelaskan pentingnya memahami prinsip Memento Mori atau mengingat akan kematian sebagai pengingat bahwa manusia adalah makhluk yang fana. Kesadaran tersebut, menurutnya, harus membawa setiap orang kepada Memento Creatoris, yakni senantiasa mengingat Sang Pencipta dalam setiap langkah kehidupan.
Menurut Pdt. Sadrak, kesadaran akan keterbatasan hidup seharusnya mendorong setiap orang untuk terus berkarya, membangun relasi yang baik dengan sesama, serta mempertanggungjawabkan seluruh hidupnya kepada Tuhan.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengenang almarhum Dr. Nataniel Mandacan sebagai pribadi yang sederhana, pekerja keras, visioner, dan memiliki dedikasi luar biasa dalam membangun Papua Barat.
“Pak Natan adalah pribadi yang serius dalam bekerja. Beliau menyelesaikan setiap tanggung jawab dengan sungguh-sungguh, bahkan sering kali mengabaikan waktu istirahat karena begitu besarnya dedikasi terhadap amanah yang diemban,” tuturnya.
Menurutnya, semangat pengabdian almarhum tidak pernah surut meski telah memasuki masa purna tugas. Bahkan ketika kondisi kesehatannya mulai menurun, almarhum masih memikirkan masa depan pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Papua.
“Salah satu pergumulan beliau adalah bagaimana membangun lembaga pendidikan dan mempersiapkan generasi Papua agar memiliki masa depan yang lebih baik. Hal itu terus menjadi perhatian beliau hingga akhir hayat,” ungkapnya.
Pdt. Sadrak berharap keteladanan hidup almarhum dapat menginspirasi seluruh masyarakat, khususnya generasi muda Papua, untuk mengisi kehidupan dengan karya, pelayanan, dan kasih kepada sesama.
“Kiranya kehidupan almarhum menjadi teladan bagi kita semua, bahwa hidup yang singkat ini harus diisi dengan karya yang bermanfaat, pelayanan yang tulus, serta kasih kepada sesama, sehingga ketika waktunya tiba kita dapat mempertanggungjawabkan kehidupan kita di hadapan Tuhan,” pesannya.
Sementara itu, mewakili keluarga besar almarhum, Obeth Arik Ayok menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat, Gubernur Papua Barat, serta seluruh pihak yang telah memberikan perhatian, dukungan, doa, dan pendampingan kepada keluarga sejak almarhum mengembuskan napas terakhir hingga pelaksanaan ibadah persemayaman.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para sahabat, kerabat, tokoh masyarakat, serta seluruh pelayat yang telah meluangkan waktu, tenaga, pikiran, bahkan bantuan materi sebagai bentuk kasih dan kepedulian kepada keluarga yang ditinggalkan.
“Kami menyampaikan terima kasih atas setiap doa, perhatian, dan ungkapan simpati yang diberikan kepada keluarga kami. Kiranya Tuhan membalas semua kebaikan Bapak, Ibu, dan Saudara sekalian,” ujarnya.
Di akhir sambutannya, Obeth memohon maaf apabila selama hidup almarhum pernah melakukan kesalahan atau kekhilafan.
“Dengan segala kerendahan hati, kami memohon dibukakan pintu maaf bagi almarhum apabila semasa hidupnya terdapat kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Kiranya Tuhan Yang Maha Esa menerima beliau dalam damai sejahtera-Nya,” tutupnya.(jp/ask).















