HeadlineKab Pegunungan ArfakPolda Papua BaratPolriProvinsi Papua Barat

Polisi Pastikan Penyelidikan Hilangnya Yanto Idorway Berjalan Profesional, Publik Diimbau Tak Berasumsi

Masyarakat Diharapkan bersabar dan memberikan kepercayaan kepada Tim SAR Gabungan yang masih melakukan operasi pencarian, dan aparat kepolisian yang melakukan penyelidikan secara profesional.

MANOKWARI, JAGATPAPUA.com – Kapolres Pegunungan Arfak (Pegaf), AKBP Bernadus Okoka, mengimbau masyarakat untuk tidak terburu-buru menarik kesimpulan maupun membangun asumsi terkait hilangnya Presenter TVRI Papua Barat, Yanto Idorway, di kawasan Air Terjun Memti, Kampung Sirsang, Kabupaten Pegunungan Arfak.

Ia meminta masyarakat bersabar dan memberikan kepercayaan kepada Tim SAR Gabungan yang hingga kini masih melakukan operasi pencarian, serta kepada aparat kepolisian yang tengah melakukan penyelidikan secara profesional.

“Kami mengimbau masyarakat agar terus mendoakan proses pencarian ini. Harapan kami, ketika korban berhasil ditemukan, seluruh teka-teki dalam peristiwa ini dapat terjawab dengan jelas berdasarkan fakta yang ada,” ujar Bernadus.

Kapolres juga mengingatkan masyarakat untuk bijak dalam menerima informasi yang beredar, terutama di media sosial. Menurutnya, perkembangan teknologi saat ini memungkinkan berbagai bentuk manipulasi gambar maupun video dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), sehingga masyarakat diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.

“Dokumentasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan hanya berasal dari pihak-pihak yang berada langsung di lokasi, seperti Tim SAR, Polres Pegunungan Arfak, maupun Kodim. Kami melihat sendiri bagaimana kondisi di lapangan,” katanya.

Bernadus menjelaskan, kondisi Sungai Air Terjun Memti sangat berbeda dengan yang terlihat dalam foto atau video yang beredar. Medan sungai memiliki kemiringan yang cukup curam, diperkirakan mencapai sekitar 45 derajat, sehingga arus air mengalir sangat deras mengikuti kontur pegunungan.

“Di foto memang terlihat seperti sungai kecil, tetapi kondisi sebenarnya sangat ekstrem. Debit air sangat deras. Bahkan personel Tim SAR yang menggunakan perlengkapan keselamatan pun beberapa kali hampir terseret arus hingga masuk ke sela-sela batu besar yang menyerupai gua,” ungkapnya.

Karena derasnya arus, Tim SAR bahkan harus membuat bendungan sementara untuk mengurangi debit air agar proses pencarian dapat dilakukan dengan lebih aman.

Ia menambahkan, warna putih yang terlihat pada aliran sungai dalam dokumentasi bukan menunjukkan air yang dangkal, melainkan menandakan derasnya arus yang menghantam bebatuan di sepanjang aliran sungai.

Kapolres juga menggambarkan ukuran bebatuan di lokasi yang sangat besar sehingga berpotensi menjadi tempat korban tersangkut apabila terbawa arus.

“Batu-batu di sana ukurannya lebih besar dari mobil. Saat kita berdiri, posisi kita bahkan berada di bawah batu yang membentuk rongga seperti gua. Itulah kondisi sebenarnya di lokasi kejadian,” jelasnya.

Terkait proses penyelidikan, Bernadus memastikan polisi bekerja secara profesional dan objektif. Hingga saat ini, hasil pemeriksaan terhadap dua saksi menunjukkan keterangan yang konsisten dan tidak mengalami perubahan sejak awal pemeriksaan.

“Berdasarkan keterangan kedua saksi, korban terpeleset lalu jatuh ke sungai. Lokasi yang mereka tunjuk justru bukan titik dengan arus paling deras. Jika mereka hendak mengarang cerita, tentu mereka akan menunjuk lokasi yang arusnya paling ekstrem dan sulit dijangkau. Namun fakta di lapangan sesuai dengan keterangan yang mereka sampaikan,” tegas Kapolres.

Ia menegaskan, seluruh proses penyelidikan akan terus dilakukan berdasarkan fakta, alat bukti, dan hasil pemeriksaan di lapangan, sehingga masyarakat diminta menunggu hasil resmi dari aparat yang berwenang.(jp/alb). 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Hati-hati salin tanpa izin kena UU no.28 Tentang Hak Cipta