Berkah Sasi Rumberpon: Harmoni Alam, Asa Pariwisata Pantai Anyeri, dan Kemandirian Warga Isenebuai
TELUK WONDAMA, JAGATPAPUA.com — Wajah Romerus Raubaba menyiratkan keheranan sekaligus takjub. Pria asal Manokwari yang menjadikan perairan Rumberpon sebagai area pencariannya ini tak menyangka, hanya dengan beberapa putaran jaring di sekitar bibir pantai, ikan-ikan berukuran besar sudah memenuhi tangkapannya.
“Tahun-tahun sebelumnya, kalau kita taruh jaring di sini atau memancing, ikannya sedikit susah. Tapi setelah kurang lebih tiga tahun disasi, hasilnya lumayan. Saya sampai heran, pas di sekitar sini jaring semua penuh ikan,” ungkap Romerus, mewakili perasaan banyak nelayan yang hadir pada momen bersejarah pencabutan Sasi di Distrik Rumberpon, Kabupaten Teluk Wondama, 16 Mei lalu.
Siang itu, berbagai jenis biota laut kelas satu tampak memenuhi jaring warga. Mulai dari Kakap Merah yang berukuran tebal, Kerapu atau yang akrab disebut ikan Goba, Bubara (Kuwe), kepiting laut, hingga ikan gorango (hiu) melimpah ruah di sekitar pesisir. Fenomena ini menjadi bukti nyata pulihnya ekosistem setempat setelah “diistirahatkan” dari aktivitas penangkapan.
Melimpahnya hasil laut di bibir pantai ini bukan sebuah kebetulan, melainkan buah manis dari kesabaran dan kepatuhan masyarakat Kampung Isenebuai terhadap kearifan lokal yang disebut ‘Sasi’. Lebih dari sekadar urusan perut, pembukaan sasi ini menjadi titik tolak kebangkitan masyarakat adat untuk menjaga alam, merintis pariwisata mandiri, sekaligus menyelamatkan masa depan generasi mudanya.
Warisan Leluhur, Teguran Alam, dan Ikatan Iman

Sasi yang diberlakukan di Rumberpon adalah wujud nyata perpaduan antara hukum adat, ilmu pelestarian lingkungan, dan nilai-nilai religius. Selama tiga tahun penuh, kawasan yang meliputi perairan Pasir Panjang—dari Batu Sejarah Indauki hingga Anyeri, Manipi, Nandesawai, dan Abu Sore—disterilkan dari segala aktivitas penangkapan ikan secara eksploitatif.
Keputusan untuk melakukan sasi ini rupanya lahir dari sebuah evaluasi sosial yang mendalam. Ketua Dewan Adat Papua (DAP) Wilayah III Doberai, Dr. Markus Waran, ST, M.Si, mengungkapkan bahwa sebelumnya ada pergeseran perilaku dalam cara warga mengelola alam. Selama ini, masyarakat dinilai mengelola alam tidak dengan cermat dan tidak lagi sesuai dengan prinsip mencintai alam itu sendiri.
“Oleh karena itu harus dilakukan sasi supaya mereka bisa mengingat kembali bagaimana mengelola alam ciptaan Tuhan dan alam ciptaan Tuhan menjadi berkat bagi kita,” jelas Dr. Markus Waran yang juga ditunjuk selaku ketua panitia pencabutan sasi.
Orgenes Rumbiak, seorang pegawai di Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua Klasis Manokwari Selatan sekaligus tokoh masyarakat setempat, menjelaskan bahwa kawasan Pantai Anyeri atau tempat yang disebut Pasir Panjang ini merupakan tanah ulayat yang sakral.
“Ada beberapa marga yang tinggal, menetap, dan menjadi pemilik hak ulayat di sini. Wilayah Pasir Panjang ini sebenarnya sudah dibagi-bagi oleh nenek moyang dari masing-masing marga yang pertama kali menetap di Pulau Rumberpon,” jelas Orgenes.
Berangkat dari ikatan sejarah suku tersebut, kesepakatan sasi selama tiga tahun ini didasarkan pada komitmen bersama antarmarga yang diperkuat dengan iman Kristiani. Sasi dianggap sebagai janji dengan Tuhan untuk memproteksi ciptaan-Nya. Warga percaya, siapa pun yang melanggar kesepakatan adat ini akan mendapatkan sanksi langsung dari Sang Pencipta.
Dari kacamata ekologi kelautan, apa yang dilakukan masyarakat Isenebuai adalah langkah konservasi yang brilian. Kepala Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC), A.G Martana, S.Hut., MH, menegaskan bahwa kearifan lokal ini sejalan dengan teknis kelautan modern.
“Sasi ini adalah merupakan proteksi di mana menjadi no-take zone dan menjadi bank ikan, yang selama itu 3 tahun dia berkembang biak dan dia akan keluar di luar daerah sasi dan dia menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat,” jelas A.G Martana.
Menghidupkan Kembali Kejayaan Wisata Pantai Anyeri

Ketika laut kembali sehat dan ikan-ikan besar bisa dilihat dengan mata telanjang, masyarakat Isenebuai mulai merajut mimpi yang lebih besar: menghidupkan kembali sektor pariwisata. Momen pencabutan sasi ini sekaligus menandai pencanangan Kampung Isenebuai sebagai Desa Wisata secara swadaya.
Potensi pariwisata di sini memang memikat. Terbentang pasir putih mengkilap sepanjang tujuh kilometer. Di masa lalu, pesona alam Anyeri bahkan pernah memikat seorang investor asal Prancis yang sempat membangun fasilitas wisata di sana dan berhasil menarik banyak turis asing. Jika dulu kejayaan Anyeri sempat meredup akibat kendala akses, kini mobilitas tidak lagi menjadi halangan. Denyut transportasi laut di sekitar pulau semakin hidup berkat pemanfaatan perahu tradisional, motor laut, hingga motor res (perahu motor cepat).
Kawasan wisata ini nantinya akan dikelola langsung secara mandiri oleh warga adat. Untuk mempertahankan karakteristik lokal, warga berencana membangun penginapan dengan arsitektur budaya khas Rumberpon, menyerupai rumah kaki seribu yang menggunakan atap daun nipun.
Anggota DPRD, Petrus Makbon, memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif warga. “Ketika datang ke sini di pinggir pantai saja mereka sudah lihat ikan, berarti pasti mereka akan datang terus. Kami sebagai wakil rakyat akan meminta pemerintah menaruh perhatian di tempat wisata ini,” kata Makbon.
Solusi Lapangan Kerja dan Sinergi Lintas Daerah

Di balik upaya menjaga alam dan merintis desa wisata, tersimpan visi sosial-politik yang mendalam. Pencanangan desa wisata ini merupakan murni inisiatif dan komitmen swadaya dari masyarakat.
Meskipun sejauh ini belum ada respons finansial resmi dari Dinas Pariwisata Kabupaten Teluk Wondama, Dr. Markus Waran memandang langkah swadaya ini sebagai pemicu penting. “Dengan kita berswadaya memulai pencanangan ini, maka pemerintah daerah dapat melihat itu terutama provinsi atau juga kabupaten dan kota terdekat,” ujar Dr. Markus Waran. Beliau berharap masyarakat bisa fokus pada hal positif untuk wisata bahari dengan tidak merusak terumbu karang.
Penyediaan lapangan kerja melalui pengelolaan pariwisata ini menjadi solusi jangka panjang untuk membentengi ketahanan sosial. Kesibukan bekerja dapat menjauhkan masyarakat dari tindakan kriminal. “Kita cari solusi lapangan kerja supaya mereka bisa kerja,” tambah Dr. Markus Waran.
Harapan besar ini pun melintasi batas administratif Teluk Wondama dan mendapat sinyal positif dari daerah tetangga. Hadirnya Bupati Kabupaten Manokwari Selatan, Bernard Mandacan, S.IP, dalam momentum tersebut menjadi wujud nyata atensi lintas daerah. Mengingat letak geografis Pulau Rumberpon yang strategis dan berdekatan dengan wilayah sekitarnya, kolaborasi antara Teluk Wondama, Manokwari Selatan, Teluk Bintuni, hingga Manokwari diharapkan dapat segera terwujud untuk mendukung infrastruktur wisata di kampung ini.
Kini, gemuruh ombak di pesisir Rumberpon tak lagi sekadar deburan air, melainkan nyanyian harapan. Lewat Sasi yang menyatukan adat, iman, dan alam, masyarakat Isenebuai sedang membuktikan bahwa menjaga warisan leluhur adalah cara paling terhormat untuk merangkai masa depan Papua Barat yang damai, mandiri, dan sejahtera. (jp/alb)















