DPD RIHeadlineKab FakfakKab KaimanaKab ManokwariKab Manokwari SelatanKab Pegunungan ArfakKab Teluk BintuniPemprov PBProvinsi Papua Barat

Ini Alasan Buah dan Ayam Untuk MBG Masih Didatangkan Dari Surabaya dan Jayapura

Persoalan Distribusi Sayuran Lokal, Khususnya Daun Singkong Yang Sulit Diperoleh Dalam Jumlah Besar

MANOKWARI, JAGATPAPUA.com – Koordinator Regional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Papua Barat Erika Vionita Werinussa mengungkap sejumlah kendala operasional pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Manokwari dan beberapa daerah sekitarnya.

Dalam pertemuan bersama Ketua Komite III DPD RI, Filep Wamafma, Senin (25/05/2026), Erika menyampaikan bahwa Kabupaten Teluk Bintuni, Manokwari Selatan dan Teluk Wondama saat ini menghadapi persoalan stok gas Elpiji karena seluruh distribusi masih bergantung dari Manokwari.

Menurutnya, sebelumnya pasokan gas dari distributor di sekitar Hypermart masih berjalan sesuai kebutuhan dapur MBG. Namun sejak akhir Mei 2026 mulai diberlakukan pembatasan pengambilan tabung gas.

“Sekarang SPPG hanya diperbolehkan mengambil dua sampai tiga tabung setiap dua hari sekali, padahal satu dapur membutuhkan minimal lima tabung gas per hari,” ujar Erika.

Ia menjelaskan, kebutuhan gas cukup tinggi karena digunakan untuk mengoperasikan rice steamer dan mesin pengering ompreng dalam proses produksi makanan.

Selain persoalan gas, Erika juga menyoroti tantangan penyediaan bahan pangan untuk menu MBG. Ia menyebut anak-anak mulai merasa bosan dengan buah lokal seperti pepaya dan pisang sehingga sering menjadi sisa makanan.

Sementara itu, pasokan jeruk lokal dari Bintuni dinilai terlalu asam sehingga pihak dapur terpaksa mendatangkan jeruk dari Jayapura. Adapun buah lain seperti apel dan anggur masih harus dipasok dari Surabaya.

“Kami berusaha menyesuaikan menu supaya anak-anak tetap mau makan dan tidak banyak makanan terbuang,” katanya.

Di sektor protein, SPPG juga masih bergantung pada pasokan ayam dari Surabaya karena harga ayam lokal dinilai terlalu tinggi dan tidak sesuai dengan indeks pembiayaan program MBG.

Meski demikian, kebutuhan telur disebut sebagian besar sudah dapat dipenuhi dari pasokan lokal Manokwari.

Erika turut menyoroti persoalan distribusi sayuran lokal, khususnya daun singkong yang sulit diperoleh dalam jumlah besar secara mendadak.

“Kebutuhan dapur bisa mencapai 250 sampai 300 ikat, sementara mama-mama Papua biasanya baru mulai berjualan sekitar pukul 16.00 WIT. Padahal bahan makanan harus sudah masuk ke dapur siang hari agar produksi untuk distribusi esok hari tidak terganggu,” jelasnya.

Ia berharap adanya dukungan pemerintah daerah dan seluruh pihak terkait untuk membantu memperkuat rantai distribusi bahan pangan dan energi agar operasional Program MBG di Papua Barat dapat berjalan maksimal. (jp/ksn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Hati-hati salin tanpa izin kena UU no.28 Tentang Hak Cipta