Dinilai Tak Demokratis, Sesepuh Pakuwojo Teluk Bintuni Tolak Hasil Musda

TELUK BINTUNI, JAGATPAUA.com – Pendopo Paguyuban Keluarga Wong Jowo (Pakuwojo) Kabupaten Teluk Bintuni mendadak ramai pada Sabtu (27/6/2026) siang. Sejumlah sesepuh dan tetua masyarakat Jawa yang mendiami Teluk Bintuni melakukan aksi protes menyikapi pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Pakuwojo 2026.
Penolakan mencuat karena mayoritas pengurus Wilayah Kerja (Wilker) Pakuwojo di tingkat distrik serta lapisan masyarakat Jawa di Teluk Bintuni tidak dilibatkan sebagai peserta Musda.
Musda dinilai cacat prosedur
Suyono, sesepuh warga transmigran asal Ngawi, Jawa Timur, menyayangkan pelaksanaan Musda yang mengabaikan tahapan sebelumnya. Ia menyebut proses Musda tidak sesuai kesepakatan Berita Acara 17 Desember 2025 yang menunjuk Sistoyo, http://S.Pd., M.M. sebagai Plt. Ketua karteker, didampingi AKP (Purn) Ashari sebagai Wakil Ketua I, Andri Yessy sebagai Sekretaris, dan Sukarni Ningsih sebagai Bendahara.
“Jadi kami yang merasa sebagai warga Jawa yang ada di sini merasa disepelekan. Makanya kami memberikan pernyataan tidak percaya kepada mereka. Kenapa di saat ada musyawarah mudah, kami tidak dihadirkan dan tidak diundang?” ujar Suyono.
Menurutnya, Musda yang berlangsung menghadirkan suasana tertutup dan sepihak. Tahapan pencalonan, daftar anggota, hingga sistem pemilihan tidak pernah dijelaskan.
“Kami merasa dilewati. Seolah-olah kami orang-orang Jawa ini hanya dijadikan sarana dan prasarana mereka. Nanti saat mereka bikin statement keluar, bilangnya sudah merangkul semua orang Jawa di Kabupaten Bintuni. Padahal kenyataannya nol,” tegasnya.

Suyono juga menolak klaim panitia yang menyebut Musda sudah didasari AD/ART dan direstui 25 pilar di bawah Pakuwojo Teluk Bintuni.
“Menurut saya, itu versi mereka. Kalaupun ada 25 pilar, itu pilar dadakan. Kami warga transmigrasi yang berasal dari wilayah SP 1, 2, 3, dan 4 tidak dilibatkan. Kami orang transmigrasi tidak ada perwakilannya. Bahkan dari para pengurus wilayah kerja ditingkat distrik yang telah dibentuk sebagai besar tidak dilibatkan dalam kuorum pemilihan,” katanya.
Di sisi lain, Plt. Sekretaris Karateker Pakuwojo Andri Yessy menjelaskan, bahwa pihaknya sudah bekerja sejak Desember 2025. Proses yang dilakukan mengedepankan asas keadilan dan kesetaraan gender dengan melibatkan “Srikandi Pakuwojo”, sebutan untuk barisan ibu-ibu.
“Alhamdulillah kami sudah membentuk 18 Wilayah Kerja (Wilker) sesuai AD/ART. Pengurus Wilker tersebar di dataran kota, SP, pesisir mulai dari RKI, Sumuri, Tomu, hingga pegunungan Stengkol I, II, dan III,” jelas Yessy.
Ia menyebut pembentukan Wilker penting sebagai filter hingga tingkat kampung agar dapat mengakomodir seluruh warga Jawa di Teluk Bintuni. Saat ini pihaknya juga tengah mengumpulkan data untuk pembuatan kartu anggota, yang menjadi syarat peserta Musda sesuai AD/ART.
“Asas organisasi ini sukarela, bukan paksaan. Siapa pun yang ingin bergabung kami berikan ruang melalui wilayah-wilayah kerja. Ini paguyuban, bukan milik oknum atau orang-orang tertentu saja,” ujarnya.
Yessy menyayangkan 18 Wilker yang telah terbentuk tidak dilibatkan dalam Musda. Padahal semangat awal Pakuwojo adalah “guyub rukun” tanpa tebang pilih.
“Kami sejak awal sudah menginginkan mediasi, bukan cari siapa yang salah atau benar. Kalau mau didudukkan dengan kepala dingin, saya yakin masalah ini bisa jalan baik,” tutup Suyono.

Sebelumnya, meski dilanda suasana protes, panitia Paguyuban Kerunan Wong Jowo (PAKUWOJO) Teluk Bintuni tetap menggelar Musyawarah Daerah Pertama Lanjutan di Sekretariat PAKUWOJO, Komplek Awarepi, Teluk Bintuni, pada Sabtu (27/6/2026).
Kegiatan ini mengusung tema “Nyawiji Ing Roso Nyawiji Ing Karso Guyup Rukun Seduluran Selawase”, yang bermakna bersatu dalam perasaan dan keinginan, serta menjaga kerukunan hidup layaknya saudara selamanya.
Dalam sambutannya, Ketua Karateker PAKUWOJO, versi Syamsul Huda menyampaikan rasa syukur mendalam, atas perkembangan organisasi yang semakin besar dan mampu memberikan manfaat bagi kelompok maupun anggotanya.
Menurutnya, pertumbuhan ini tidak lepas dari perjuangan dan dukungan seluruh elemen yang setia mendampingi organisasi sejak awal berdiri.
“Alhamdulillah, sejak berdirinya PAKUWOJO hingga kini semakin besar dan bermanfaat bagi semua. Hal ini berkat kerja keras dan dukungan dari seluruh pihak,” ujar Syamsul Huda.
Ia juga menegaskan bahwa dinamika organisasi, termasuk adanya perbedaan pandangan atau situasi yang kurang menyenangkan, adalah hal yang wajar terjadi. Seorang pemimpin, lanjutnya, dituntut untuk memiliki kesabaran dan keteguhan hati, bahkan ketika menghadapi penghinaan atau fitnah.
“Dinamika dalam organisasi itu biasa terjadi. Sebagai pemimpin, kami harus sabar dan kuat. Dihina atau difitnah adalah bagian dari proses memimpin. Terima kasih sebesar-besarnya kepada semua elemen yang telah mendukung hingga PAKUWOJO bisa tumbuh dan bermanfaat seperti sekarang,” tambahnya.
Musyawarah Daerah ini menjadi momen penting untuk memperkuat persatuan anggota, menyamakan visi, dan memantapkan langkah ke depan demi mewujudkan semangat kebersamaan yang tercantum dalam tema kegiatan. (jp/ksn)



















