HeadlineKab ManokwariPemprov PBProvinsi Papua Barat

Warga Masiepi Desak Pemda Manokwari Segera Atasi Asap Kebakaran Sampah di TPA Arfai

Selain mengganggu kesehatan, asap juga berdampak terhadap mata pencaharian masyarakat yang sebagian besar memiliki kebun di sekitar kawasan TPA.

MANOKWARI, JAGATPAPUA.com – Warga Kampung Masiepi, Distrik Manokwari Selatan, Kabupaten Manokwari, mendesak Pemerintah Kabupaten Manokwari dan Pemerintah Provinsi Papua Barat segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi dampak asap akibat kebakaran sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Arfai yang telah berlangsung hampir dua bulan.

Tokoh Pemuda Arfak, Erikson Dowanaiba.

Asap pekat yang terus menyelimuti kawasan permukiman warga dinilai telah mengganggu aktivitas sehari-hari serta menimbulkan berbagai keluhan kesehatan di tengah masyarakat.

Tokoh Pemuda Arfak, Erikson Dowansiba, mengatakan kebakaran sampah di TPA Arfai yang diduga dipicu oleh oknum tidak bertanggung jawab telah menyebabkan lingkungan Kampung Masiepi dipenuhi asap hampir setiap hari.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat masyarakat tidak dapat menjalankan aktivitas secara normal karena kualitas udara yang semakin memburuk.

“Mewakili masyarakat Kampung Masiepi, saya menyampaikan bahwa kondisi ini sudah berlangsung hampir dua bulan. Asap dari kebakaran sampah membuat masyarakat tidak merasa aman dalam beraktivitas. Bahkan sudah berdampak pada kesehatan warga. Banyak ibu-ibu, bapak-bapak, hingga anak-anak yang mengalami gangguan kesehatan,” kata Erikson yang juga warga kampung Masiepi, Senin (3/8/2026) kepada jagatpapua.com.

Selain mengganggu kesehatan, kata Erikson, asap juga berdampak terhadap mata pencaharian masyarakat yang sebagian besar memiliki kebun di sekitar kawasan TPA.

Ia menjelaskan warga kesulitan berkebun karena asap yang terus menyelimuti lokasi, ditambah cuaca panas yang menyebabkan banyak tanaman mengering.

“Masyarakat yang memiliki kebun di sekitar TPA tidak bisa berkebun dengan baik karena asap. Ditambah kondisi cuaca yang panas sehingga banyak tanaman menjadi kering,” ujarnya.

Atas kondisi tersebut, Erikson mendesak Pemerintah Kabupaten Manokwari maupun Pemerintah Provinsi Papua Barat segera mengambil langkah penanganan agar kebakaran sampah dapat dipadamkan dan dampaknya tidak semakin meluas.

Menurutnya, apabila kondisi ini terus dibiarkan, dikhawatirkan akan menimbulkan risiko kesehatan yang lebih serius bagi masyarakat.

“Kalau kondisi ini terus dibiarkan hingga masyarakat jatuh sakit lebih parah, siapa yang akan bertanggung jawab? Karena itu kami berharap pemerintah segera menangani persoalan ini,” tegasnya.

Ia juga meminta pemerintah mengevaluasi keberadaan TPA Arfai yang lokasinya berdekatan dengan permukiman warga dan kawasan perkantoran Pemerintah Provinsi Papua Barat.

Menurutnya, pemerintah perlu mempertimbangkan pemindahan lokasi TPA ke tempat yang lebih layak agar tidak terus menimbulkan dampak bagi masyarakat.

Erikson menilai respons pemerintah terhadap persoalan tersebut masih lambat karena hingga kini kebakaran sampah masih terus terjadi meski telah berlangsung hampir dua bulan.

Keluhan serupa disampaikan salah seorang warga Kampung Masiepi, Lani Dowansiba. Ia mengatakan asap tebal hampir setiap hari masuk hingga ke dalam rumah warga sehingga aktivitas sehari-hari, termasuk makan dan beristirahat, menjadi terganggu.

“Asap paling tebal biasanya pagi dan sore, tetapi kadang berlangsung dari pagi sampai malam tergantung arah angin. Kami sangat kesulitan beraktivitas,” tuturnya.

Lani mengungkapkan masyarakat sebenarnya telah berupaya memadamkan api secara swadaya. Namun, besarnya tumpukan sampah membuat api sulit dipadamkan karena telah membakar hingga ke bagian bawah timbunan sampah.

“Warga sudah berusaha memadamkan api, tetapi tidak berhasil karena tumpukan sampah sangat tinggi seperti gunung dan apinya berada di bagian bawah,” imbuhnya.

Masyarakat berharap pemerintah daerah segera turun tangan melakukan penanganan menyeluruh agar kebakaran dapat dipadamkan, kualitas udara kembali membaik, dan warga dapat kembali menjalankan aktivitas tanpa dihantui dampak buruk asap yang terus menyelimuti Kampung Masiepi.(jp/ask)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Hati-hati salin tanpa izin kena UU no.28 Tentang Hak Cipta