Kemarau Panjang Diprediksi hingga Oktober, Mugiyono Ingatkan Warga Waspada Kebakaran
Kondisi tersebut perlu diantisipasi bersama karena musim kemarau tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat memicu berbagai persoalan, terutama berkurangnya ketersediaan air dan meningkatnya risiko kebakaran.

MANOKWARI, JAGATPAPUA.com — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manokwari mengingatkan seluruh masyarakat, Aparatur Sipil Negara (ASN), serta jajaran TNI-Polri untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung cukup panjang hingga Oktober 2026.
Wakil Bupati Manokwari, H. Mugiyono, Selasa (11/8/2026) mengatakan berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan di wilayah Manokwari diperkirakan mulai berkurang dan kondisi kering dapat berlangsung hingga beberapa bulan ke depan.
“Jadi sekarang ini sampai Agustus selesai, September siap-siap untuk tidak akan ketemu hujan. Kalaupun hujan mungkin sebentar, tidak akan panjang, tapi umumnya tidak hujan,” ujar Mugiyono di Manokwari, Selasa (11/8/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut perlu diantisipasi bersama karena musim kemarau tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat memicu berbagai persoalan, terutama berkurangnya ketersediaan air dan meningkatnya risiko kebakaran.
Mugiyono menyebut, kondisi kering mulai dirasakan di sejumlah wilayah. Vegetasi hijau berkurang, tanah menjadi lebih kering dan berdebu, sementara debit air pada sejumlah sumber air masyarakat juga mulai menurun.
Salah satunya terjadi di wilayah Suwafen Tengah, di mana sejumlah sumur warga mulai mengalami kekurangan pasokan air.
“Dampaknya sudah mulai kita rasakan. Tanah mulai kering, vegetasi juga mulai berkurang dan di beberapa tempat sumur masyarakat mulai kekurangan air,” jelasnya.
Di tengah kondisi lingkungan yang semakin kering, Pemkab Manokwari juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Mugiyono secara khusus meminta masyarakat yang merokok agar tidak membuang puntung rokok sembarangan, terlebih di kawasan yang terdapat semak belukar maupun rumput kering.
Menurutnya, kelalaian kecil dapat memicu kebakaran apabila puntung rokok yang dibuang masih menyisakan bara api.
“Makanya khususnya kepada mungkin yang masih merokok, kalau buang puntung pastikan dia mati dulu. Jangan sampai terjadi musibah kebakaran lagi,” tegasnya.
Ia meminta masyarakat tidak menganggap sepele potensi kebakaran selama musim kemarau. Setiap orang, kata dia, memiliki peran untuk mencegah terjadinya kebakaran lingkungan.
Selain ancaman kebakaran, Pemkab Manokwari juga mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan, termasuk memastikan saluran drainase atau got tidak dipenuhi sampah.
Mugiyono mengaku masih menemukan sejumlah saluran air yang tersumbat oleh sampah plastik, kemasan makanan, hingga bungkus permen yang dibuang sembarangan.
Kondisi tersebut dinilai menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan masih perlu ditingkatkan.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat membangun kebiasaan hidup bersih yang dimulai dari hal-hal sederhana, salah satunya dengan tidak membuang sampah sembarangan.
Masyarakat juga diminta menyimpan sampah pribadi terlebih dahulu apabila belum menemukan tempat pembuangan sampah yang layak.
“Mari kita mulai kehidupan kebiasaan baik ini untuk diri kita, keluarga kita, lingkungan kita, dan juga kabupaten kita. Khususnya dalam rangka menjaga lingkungan hidup kita karena kondisi kita lagi musim keringnya agak panjang,” pungkas Mugiyono.(jp/alb).






