122 Ormas dan Sanggar Seni Siap Meriahkan Pawai Budaya HUT ke-27 Papua Barat
Antusiasme masyarakat untuk terlibat dalam pawai budaya tahun ini cukup tinggi.
MANOKWARI, JAGATPAPUA.com – Sebanyak 122 organisasi masyarakat (ormas), paguyuban, dan sanggar seni siap ambil bagian dalam Pawai Budaya dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Provinsi Papua Barat.
Pawai budaya yang digelar Pemerintah Provinsi Papua Barat melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) tersebut dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 8 Oktober 2026.
Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian peringatan HUT Provinsi Papua Barat yang puncaknya diperingati pada 12 Oktober 2026.
Kepala Disbudpar Papua Barat, Jafar Werfete, S.Sos,.MM mengatakan kesiapan pelaksanaan pawai telah dimatangkan melalui technical meeting bersama 122 peserta yang terdiri dari berbagai paguyuban, ormas dan sanggar seni.
“Baru saja kami menyelesaikan rapat technical meeting dengan 122 ormas, paguyuban dan sanggar seni yang akan terlibat dalam karnaval atau pawai budaya dalam rangka HUT Provinsi Papua Barat ke-27,” ujar Jafar, Selasa (6/10/2026).
Menurutnya, dalam technical meeting tersebut disepakati sejumlah hal teknis, mulai dari pembatasan jumlah kendaraan, waktu keberangkatan peserta, hingga pengaturan ketertiban, kenyamanan dan kelancaran selama pawai berlangsung.
Jafar menjelaskan, pawai akan dilepas langsung oleh Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan sekitar pukul 12.30 WIT. Selanjutnya, peserta dijadwalkan mulai bergerak pada pukul 13.00 WIT dari titik awal di Rumah Sakit Angkatan Laut (RS AL).
“Rencananya Bapak Gubernur akan melepas pawai pukul 12.30 siang. Kemudian sekitar pukul 13.00 WIT peserta mulai bergerak dari Rumah Sakit Angkatan Laut,” jelasnya.
Dari titik awal tersebut, peserta akan melintasi Jalan Yos Sudarso, kawasan Makalo, dan selanjutnya menuju Jalan Merdeka sebagai titik akhir atau lokasi finish, tepatnya di sekitar CV Teguh.
Jafar mengatakan antusiasme masyarakat untuk terlibat dalam pawai budaya tahun ini cukup tinggi. Berbagai masukan juga disampaikan peserta dalam technical meeting sebagai bahan evaluasi untuk penyelenggaraan kegiatan serupa pada tahun-tahun mendatang.
“Antusiasme masyarakat cukup besar. Banyak juga saran yang mereka sampaikan. Pada prinsipnya kami mengakomodir berbagai saran tersebut. Untuk tahun depan, konsepnya mungkin akan kami buat sedikit lebih baik dan berbeda,” kata Jafar Werfete .
Ia memastikan seluruh peserta telah menyatakan kesiapan untuk berpartisipasi dalam pawai yang mengusung konsep kebudayaan sebagai tema utama.
Menurut Jafar, peserta nantinya diminta menampilkan representasi budaya masing-masing, baik dari paguyuban Nusantara maupun masyarakat Papua serta sanggar-sanggar seni yang ada di Manokwari dan wilayah sekitarnya.
“Ini adalah pawai budaya. Karena itu, yang ditampilkan adalah representasi kebudayaan masing-masing paguyuban, baik Papua maupun suku-suku Nusantara yang ada di sini, termasuk sanggar seni,” ujarnya.
Ia menegaskan, peserta juga telah sepakat untuk tidak menampilkan unsur-unsur kontemporer yang tidak berkaitan dengan kebudayaan. Sebaliknya, setiap peserta diarahkan untuk menampilkan kekayaan budaya yang selama ini mereka tekuni dan kembangkan.
“Hal-hal lain yang bersifat kontemporer di luar kebudayaan tidak kita tampilkan. Kita lebih menampilkan unsur-unsur budaya dari setiap paguyuban yang ada di Papua Barat, terutama di Kota Manokwari dan Manokwari Raya,” tegasnya.
Jafar menyebutkan, sebagian peserta bahkan berasal dari luar Kota Manokwari. Keterlibatan tersebut diharapkan semakin memperkuat pesan keberagaman dan persatuan masyarakat Papua Barat.
Ia berharap pawai budaya tersebut tidak hanya menjadi hiburan dalam rangkaian HUT Papua Barat, tetapi juga menjadi momentum mempererat kebersamaan, kekeluargaan dan toleransi antarmasyarakat dari berbagai latar belakang budaya.
“Saya berharap ini menjadi momentum kita semua sebagai paguyuban Nusantara dan masyarakat Papua yang ada di Kota Manokwari untuk menunjukkan kebersamaan dan kekeluargaan. Kita sama-sama memeriahkan HUT Provinsi Papua Barat,” harapnya.
Ia juga mengajak seluruh peserta memaknai keikutsertaan mereka sebagai bentuk kontribusi terhadap daerah yang menjadi tempat tinggal bersama.
“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Kita semua berkontribusi untuk Papua Barat,” tuturnya.
Untuk mendukung keikutsertaan peserta, Pemprov Papua Barat melalui Disbudpar juga memberikan insentif kepada masing-masing paguyuban. Namun, ia menegaskan nilai bantuan tersebut terbatas karena kebutuhan untuk menyiapkan satu kelompok karnaval relatif besar.
“Kami memberikan insentif kepada masing-masing paguyuban untuk melancarkan kegiatan mereka, tetapi nilainya tidak besar karena kami tahu menyiapkan satu grup karnaval itu biayanya sangat besar dan sebagian besar merupakan partisipasi mereka sendiri,” jelasnya.
Menurutnya, semangat sukarela dari masyarakat menjadi bagian penting dalam menyukseskan pawai budaya tersebut.
“Kita semua sepakat bahwa ini adalah persembahan atau kontribusi kita sebagai masyarakat yang tinggal di Papua Barat untuk Papua Barat. Karena itu, kita semua berpartisipasi secara sukarela untuk menyukseskan kegiatan ini,” imbuhnya.
Ia berharap pelaksanaan pawai budaya dapat menjadi cerminan Manokwari sebagai daerah yang damai, toleran dan memiliki kekayaan budaya yang beragam.
“Ini menjadi ajang untuk kebersamaan. Sama-sama kita tunjukkan Manokwari sebagai kota yang damai, kota yang toleran dan kota yang penuh keanekaragaman kebudayaan Indonesia,” pungkasnya.(jp/ask).











