HeadlineKab FakfakKab KaimanaKab ManokwariKab Manokwari SelatanKab Pegunungan ArfakKab Teluk BintuniKab Teluk WondamaPapua BaratPemprov PBProvinsi Papua Barat

1.571 Hotspot Terdeteksi di Papua Barat, Kabut Asap Manokwari Makin Pekat

Asap Berpotensi Kiriman dari Papua Selatan

MANOKWARI, JAGATPAPUA.com– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Manokwari mencatat sebanyak 1.571 titik panas (hotspot) terdeteksi di wilayah Papua Barat hingga Selasa, 6 Oktober 2026.

Ribuan titik panas tersebut menjadi salah satu indikator yang memperkuat potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah wilayah, sekaligus berkontribusi terhadap memburuknya kualitas udara akibat kabut asap yang kini menyelimuti Manokwari dan beberapa daerah lainnya di Papua Barat.

Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Kelas II Rendani Manokwari, Fadri Prasetya, mengatakan dari total 1.571 hotspot tersebut, sebanyak 13 titik berada pada kategori tingkat kepercayaan rendah, 1.532 titik kategori sedang, dan 26 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi.

“Per hari kemarin yang masuk dalam wilayah Papua Barat, kategori rendah ada 13 titik. Sedangkan tingkat kepercayaan sedang ada 1.532 titik panas dan tingkat kepercayaan tinggi ada 26 titik panas,” kata Fadri dikutip dari PinfunPapua.com Rabu. 

Menurutnya, banyaknya titik panas tersebut turut memengaruhi kondisi atmosfer di wilayah Papua Barat. Kabut asap yang menyelimuti Manokwari bahkan tidak hanya berasal dari wilayah sekitar Manokwari, tetapi berpotensi merupakan akumulasi asap dari wilayah lain akibat pergerakan massa udara.

Fadri menjelaskan, kondisi kabut asap di Manokwari diperkuat oleh pola angin yang bergerak dari arah tenggara hingga timur-selatan menuju wilayah Manokwari.

Berdasarkan pantauan satelit, pola pergerakan angin tersebut memungkinkan partikel asap dari wilayah yang berada di sebelah timur dan selatan Papua bergerak menuju kawasan Manokwari.

“Total hari kemarin ada 1.571 titik. Kita juga bisa mendapatkan kiriman dari Papua Selatan. Dari pantauan satelit sekitar pukul 10.00, arah angin dari timur-selatan bergerak ke barat dan sedikit ke utara,” jelasnya.

Dengan pola angin tersebut, kabut asap yang berada di atmosfer Manokwari berpotensi merupakan gabungan dari sumber lokal maupun kiriman dari wilayah lain, termasuk Papua Selatan, khususnya Merauke.

Sejumlah wilayah di Papua Barat juga turut terdampak kondisi kabut asap, di antaranya Fakfak, Kaimana, Teluk Bintuni, Manokwari Selatan, dan Manokwari.

Kondisi kabut asap di Manokwari juga berdampak langsung terhadap jarak pandang.

BMKG mencatat, jarak pandang pada 5 Oktober 2026 masih berada di kisaran 2 kilometer. Namun, sehari kemudian, jarak pandang turun menjadi sekitar 1 kilometer.

Penurunan semakin signifikan pada sore hari. Hasil pengamatan pada pukul 16.00 WIT menunjukkan jarak pandang hanya sekitar 500 meter.

“Ketebalan kabut asap kemarin rata-rata jarak pandang sekitar 2 kilometer. Sedangkan hari ini, 6 Oktober 2026, sekitar 1 kilometer. Bahkan pukul 4 sore turun menjadi 500 meter dari segi jarak pandang,” kata Fadri.

Kondisi ini menjadi perhatian karena jarak pandang merupakan salah satu faktor penting dalam aktivitas transportasi, khususnya penerbangan. Penurunan visibility yang signifikan dapat memengaruhi keselamatan dan kelancaran operasional penerbangan apabila kondisi terus memburuk.

BMKG menjelaskan, pengurangan konsentrasi kabut asap sangat bergantung pada kondisi atmosfer, terutama arah dan kecepatan angin serta curah hujan.

Angin yang cukup kuat dapat membantu menggeser partikel asap dari suatu wilayah. Sebaliknya, kondisi angin yang relatif tenang membuat partikel asap cenderung bertahan dan menumpuk di sekitar wilayah terdampak.

“Kalau angin kencang, partikel-partikel asap bisa bergerak sehingga asap dapat bergeser menjauhi Manokwari. Namun, kondisi angin di Manokwari saat ini relatif tenang sehingga tidak terlalu mendukung untuk menggerakkan asap menjauh,” jelasnya.

Karena itu, penanganan kabut asap tidak hanya membutuhkan upaya dari sisi meteorologi, tetapi juga pengendalian sumber api dan pencegahan meluasnya kebakaran hutan dan lahan.

Harapan terhadap hujan sebagai salah satu faktor alami untuk membantu membersihkan atmosfer dari partikel asap juga masih menghadapi kendala.

BMKG memperkirakan peluang hujan di Manokwari dalam beberapa hari ke depan relatif kecil. Kondisi tersebut dipengaruhi karakteristik klimatologis Oktober yang cenderung menjadi salah satu periode dengan curah hujan rendah.

Fadri mengatakan kondisi tersebut turut diperkuat oleh pengaruh fenomena El Nino, sehingga pembentukan awan hujan dan peluang terjadinya hujan di wilayah Manokwari menjadi lebih terbatas.

“Untuk hujan sendiri di Manokwari beberapa hari ke depan agak sulit. Kita tahu bahwa Oktober masuk dalam periode dengan jumlah hujan paling sedikit dalam satu bulan. Apalagi ada El Nino, sehingga peluang terjadinya hujan cukup kecil,” katanya.

Dengan kombinasi banyaknya hotspot, kondisi angin yang relatif tenang, serta minimnya peluang hujan, BMKG memperkirakan kabut asap masih berpotensi bertahan dalam beberapa hari ke depan.

“Jadi dari segi meteorologis, baik angin maupun hujan, belum mendukung Manokwari untuk terhindar dari kabut asap dalam beberapa hari ke depan. Kalau tiba-tiba terjadi hujan dan angin yang cukup kencang, partikel-partikel asap bisa bergeser menjauh dari Manokwari,” tutup Fadri.(jp/red). 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Hati-hati salin tanpa izin kena UU no.28 Tentang Hak Cipta