Manokwari Darurat LPG Non Subsidi, Harga Meroket Tajam, Capai Rp600 Ribu per Tabung

MANOKWARI, JAGATPAPUA.com — Kelangkaan tabung gas LPG non subsidi di Kabupaten Manokwari semakin dirasakan masyarakat. Selain stok yang terbatas, harga jual LPG juga mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa bulan terakhir.

Untuk memastikan kondisi di lapangan, Wartawan Media ini melakukan pengecekan langsung ke gudang agen LPG non subsidi milik PT Agung Irian Permai serta sejumlah toko yang biasa menjual tabung gas kepada masyarakat, pada Senin (25/05/2026).
Kepala Gudang Agen LPG Non Subsidi PT Agung Irian Permai, Anwar, mengakui stok LPG saat ini masih terbatas akibat keterlambatan pengiriman melalui jalur distribusi laut.
“Untuk gas sementara ini mungkin stoknya masih terbatas karena proses pengiriman terlambat,” ujar Anwar saat ditemui di gudang agen.
Ia menjelaskan, harga LPG non subsidi juga mengalami kenaikan hingga dua kali dalam beberapa waktu terakhir. Untuk tabung ukuran 12 kilogram kini dijual seharga Rp495 ribu, sementara ukuran 5,5 kilogram mencapai Rp245 ribu.
“Kalau yang besar mungkin harganya 12 kilo di harga Rp495 ribu. Yang 5,5 kilo harga Rp245 ribu,” katanya.
Anwar menegaskan LPG yang dijual merupakan LPG non subsidi. Ia juga menyebut LPG subsidi tabung melon tidak masuk dalam distribusi di wilayah tersebut.
“Kalau yang melon itu tidak masuk di Manokwari sini,” ucapnya.
Menurutnya, harga LPG sebelumnya masih berada di kisaran Rp300 ribu sebelum akhirnya naik hingga mendekati Rp500 ribu.
“Dari sebelumnya mungkin dari harga Rp300 ribu naik ke Rp400 ribu dan sampai sekarang di harga Rp495 ribu. Ada kenaikan dua kali,” jelasnya.
Akibat stok yang terbatas, pihak agen kini memberlakukan pembatasan pembelian baik kepada toko maupun masyarakat umum.
“Kalau toko-toko mungkin kita kasih terbatas, mungkin tiga tabung saja. Kalau untuk pemakaian pribadi paling banyak dua tabung. Kalau stok semakin menipis ya kita cuma kasih satu sampai kapal berikut datang,” ungkapnya.
Sementara itu, kondisi berbeda ditemukan di salah satu toko yang hanya berjarak sekitar satu kilometer dari gudang agen, yakni Toko Winmart. Meski berada dekat dengan lokasi distribusi, toko tersebut mengaku sudah beberapa bulan tidak mendapatkan pasokan LPG.
Karyawan Winmart, Sinta, mengatakan selama ini sistem distribusi dilakukan berdasarkan pemesanan dari toko kepada agen. Namun dalam beberapa bulan terakhir, permintaan mereka tidak kunjung dipenuhi karena alasan stok kosong.
“Sudah beberapa bulan tidak masuk di toko kami. Bos sudah pesan tapi katanya stok masih kosong,” katanya.
Ia mengaku harga terakhir sebelum terjadi kelangkaan berada di angka Rp330 ribu untuk tabung besar dan Rp180 ribu untuk ukuran kecil.
Sinta berharap pemerintah maupun pihak distributor dapat segera menstabilkan distribusi LPG agar masyarakat tidak semakin kesulitan mendapatkan kebutuhan rumah tangga tersebut.
“Semoga stok gas lebih banyak lagi dan harganya masih bisa dijangkau, jangan terlalu mahal,” harapnya.
Kelangkaan serupa juga dirasakan pedagang sembako di kawasan Pasar Wosi, Manokwari. Salah satu pemilik toko mengaku sudah hampir satu bulan tidak lagi menjual LPG karena tidak memperoleh pasokan dari distributor.
“Sekarang kami jual Rp600 ribu, tapi tidak ada barangnya,” ujarnya.
Ia mengatakan, sebelumnya harga LPG tabung besar masih dijual di kisaran Rp350 ribu. Namun setelah terjadi kelangkaan, harga melonjak hampir dua kali lipat meski barang sulit ditemukan di pasaran.
“Kalau naik itu sedikit, tapi ini sudah ganti harga. Dari Rp350 ribu sekarang orang bilang sampai Rp600 ribu,” katanya.
Menurutnya, masyarakat kini sangat bergantung pada LPG sehingga kelangkaan yang berkepanjangan sangat berdampak terhadap aktivitas rumah tangga maupun usaha kecil.
“Sekarang hampir semua pakai LPG. Kalau kembali pakai kayu rasanya sudah tidak mungkin lagi. Jadi bagaimana baiknya supaya selalu ada distribusi,” tuturnya.
Ia berharap pemerintah bersama distributor dapat segera mencari solusi agar pasokan LPG non subsidi kembali normal dan harga dapat dikendalikan di tengah kebutuhan masyarakat yang terus meningkat.(jp/ksn)














