HUT PI ke-68 GPKAI, Pemprov Papua Barat Tekankan Persatuan dan Nilai-Nilai Injil

MINYAMBOUW, JAGATPAPUA.com – Pemerintah Provinsi Papua Barat menegaskan pentingnya menjaga nilai-nilai iman, persaudaraan, persatuan, dan kebersamaan dalam kehidupan masyarakat, seiring peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Pekabaran Injil (PI) ke-68 Gereja Persekutuan Kristen Alkitab Indonesia (GPKAI) di Minyambouw, Kabupaten Pegunungan Arfak, Kamis (17/9/2026).
Pesan tersebut disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Provinsi Papua Barat, Legius Wanimbo, S.Pt., M.M., saat membacakan sambutan tertulis Gubernur Papua Barat pada perayaan HUT PI ke-68 GPKAI.
Legius mengatakan, peringatan HUT PI bukan sekadar agenda seremonial tahunan, tetapi menjadi momentum penting untuk mengenang perjalanan panjang masuknya Injil di wilayah Pegunungan Arfak, khususnya di Bukit Minyambouw, sekaligus merefleksikan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.
“Injil yang telah tiba di tanah Papua, di Pegunungan Arfak, di Bukit Minyambouw dari Yerusalem, telah membawa hidup, kedamaian, dan keselamatan bagi umat GPKAI di seluruh wilayah Suku Hatam secara khusus, serta Pegunungan Arfak dan Papua secara luas,” ujar Legius.
Menurutnya, perjalanan Pekabaran Injil selama 68 tahun telah menjadi bagian penting dari sejarah kehidupan masyarakat di wilayah Suku Hatam. Kehadiran Injil tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan iman, tetapi juga sebagai bagian dari perubahan kehidupan sosial dan peradaban masyarakat.
Mengusung tema nasional “Betapa Indahnya Berita Baik di Atas Gunung”, yang terinspirasi dari Kitab Yesaya 52:7, Legius menyebut momentum tersebut menjadi pengingat bahwa berita Injil yang dibawa ke wilayah Pegunungan Arfak telah melewati perjalanan panjang dan menjadi bagian dari kehidupan umat hingga saat ini.
“Perjalanan 68 tahun ini hendaknya menjadi refleksi bagi kita semua untuk terus menjaga iman dan nilai-nilai persaudaraan yang telah diwariskan oleh para pembawa Injil,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya memperkuat persatuan dan kesatuan umat GPKAI yang berasal dari berbagai sub-suku Hatam, di antaranya Hatam Mole, Hatam Sou, Hatam Mea, Hatam Moskona hingga Hatam Kebar.
Menurut Legius, keberagaman suku, budaya, dan tradisi yang hidup di Papua Barat merupakan kekayaan yang harus dikelola sebagai kekuatan untuk membangun kehidupan masyarakat yang harmonis, sejahtera, dan berkeadilan.
“Perbedaan dan keragaman yang kita miliki jangan menjadi alasan untuk terpecah, tetapi harus menjadi kekuatan untuk membangun persaudaraan dan kebersamaan,” pesannya.
Pada kesempatan tersebut, Pemerintah Provinsi Papua Barat juga menyampaikan apresiasi kepada GPKAI dan seluruh panitia yang telah mempersiapkan perayaan HUT PI ke-68 tersebut.
Legius mengatakan, penetapan tugu pendaratan Injil di Minyambouw memiliki arti penting sebagai penanda sejarah bagi generasi mendatang. Tugu tersebut diharapkan menjadi pengingat bahwa Minyambouw memiliki bagian penting dalam perjalanan Pekabaran Injil di Tanah Papua.
“Atas nama pemerintah daerah, kami menyampaikan apresiasi kepada GPKAI dan seluruh panitia yang telah bekerja keras mempersiapkan perayaan bersejarah ini, sekaligus menetapkan tugu pendaratan Injil agar generasi penerus selalu mengingat bahwa Injil pernah mendarat di sini,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Gubernur Papua Barat melalui sambutannya mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya umat GPKAI di Minyambouw dan Tanah Arfak, untuk terus merawat semangat persaudaraan, memperkuat kehidupan iman, serta mengimplementasikan nilai-nilai Injil dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai-nilai tersebut, kata dia, diharapkan tidak berhenti dalam perayaan keagamaan, tetapi diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama, menjaga kerukunan, menghormati keberagaman, serta mengambil bagian dalam pembangunan daerah.
“Dengan semangat persaudaraan dan iman yang kuat, kita bersama-sama menyongsong masa depan pembangunan Papua Barat yang berkelanjutan, harmonis, sejahtera, dan berkeadilan,” pungkasnya.(jp/alb).



















