Kab Pegunungan ArfakPemprov PBProvinsi Papua Barat

GPKAI Peringati HUT PI Ke-68 di Minyambouw, Dr. Philipus Harap Jadi Momentum Memperkuat Iman

Jumlah jemaat GPKAI telah mencapai lebih dari 611 jemaat dengan jumlah anggota jemaat lebih dari 116.000 jiwa.

MINYAMBOUW, JAGATPAPUA.com— Majelis Umum Gereja Persekutuan Kristen Alkitab Indonesia (GPKAI) memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Pekabaran Injil (PI) ke-68 di wilayah Suku Hatam, Distrik Minyambouw, Kabupaten Pegunungan Arfak, Kamis (17/9/2026).

Perayaan tersebut menjadi momentum penting untuk mengenang perjalanan masuknya Injil di wilayah adat Hatam sekaligus merefleksikan perkembangan pelayanan gereja selama 68 tahun di Tanah Papua.

Rangkaian perayaan diawali dengan ibadah syukur yang berlangsung di Gedung GPKAI Jemaat Mbusyamei Betel Minyambouw dan dihadiri ratusan warga jemaat GPKAI.

Ibadah dipimpin Pdt. Melky Ayok, S.Th., M.Th. dengan mengangkat tema Betapa Indahnya Berita Baik di Atas Gunung” yang diambil dari Yesaya 52:7.

Ibadah syukur tersebut turut dihadiri perwakilan sejumlah kelompok suku, di antaranya Hatam, Hatam Moile, Hatam Sougb, Hatam Meyah, Hatam Moskona, dan Hatam Kebar.

Momentum perayaan tidak hanya menjadi ungkapan syukur atas perjalanan pelayanan gereja, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat persatuan antarsuku serta membangun sinergi antara gereja, masyarakat, dan pemerintah dalam mendorong pembangunan di Tanah Arfak.

Ketua Majelis Umum GPKAI, Pdt. Dr. Pilipus Manggaprow, M.Th., dalam sambutannya mengatakan sejarah masuknya Injil merupakan fondasi rohani yang sangat penting bagi kehidupan umat di Tanah Papua, khususnya masyarakat di wilayah adat Hatam dan Moile.

Menurutnya, kehadiran para penginjil dan misionaris dari berbagai tempat merupakan bagian dari perjalanan panjang penyebaran Injil hingga dapat diterima dan bertumbuh di tengah masyarakat Hatam dan Moile.

“Tuhan tidak lupa kita, Tuhan ingat kita, dan Tuhan mengutus hamba-hamba-Nya, para penginjil misionaris, datang dari jauh untuk membawa kabar baik itu kepada kita supaya Suku Hatam dan Moile juga mendapat kasih karunia Allah melalui Injil Yesus Kristus,” ujar Pdt. Pilipus.

Pdt. Pilipus juga menyoroti perkembangan GPKAI yang telah melewati perjalanan panjang sejak awal pelayanan di tengah keterbatasan dan kondisi geografis Papua.

Menurutnya, perjalanan pelayanan yang dirintis dari wilayah pedalaman Papua tersebut kini telah berkembang jauh dan menjangkau berbagai daerah di Indonesia.

GPKAI, kata dia, kini tidak lagi hanya dipandang sebagai gereja lokal atau gereja suku, tetapi telah berkembang menjadi gereja nasional dengan jaringan pelayanan yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara.

Saat ini, GPKAI menaungi 72 majelis daerah atau klasis yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk di Jakarta, Banten, Solo, Yogyakarta hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sementara itu, jumlah jemaat GPKAI telah mencapai lebih dari 611 jemaat dengan jumlah anggota jemaat lebih dari 116.000 jiwa.

Perkembangan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang pelayanan GPKAI dalam menjalankan tugas pemberitaan Injil sekaligus menghadirkan pelayanan bagi masyarakat.

Karena itu, Pdt. Pilipus mengingatkan seluruh warga GPKAI agar Injil tidak berhenti sebatas pemberitaan di dalam gereja, tetapi harus diwujudkan melalui kehidupan sehari-hari.

“Jangan kita masukkan Injil, simpan kunci dalam lemari, lalu baru kita pakai cara-cara lama. Mari kita tunjukkan Injil itu dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai anak-anak Injil,” pesannya.

Perayaan HUT PI ke-68 di Minyambouw diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat iman dan persatuan warga GPKAI, sekaligus membangkitkan semangat generasi muda untuk mengenal, merawat, dan meneruskan sejarah pelayanan gereja.

Lebih dari sekadar mengenang masa lalu, peringatan tersebut diharapkan menjadi pijakan bagi generasi penerus untuk melanjutkan estafet pelayanan, menjaga nilai-nilai kasih, serta berkontribusi bagi pembangunan masyarakat di Tanah Papua dan Indonesia. 

Dalam rangkaian kegiatan itu juga dilakukan penandatanganan pelepasan tanah adat untuk pembangunan situs Pekabaran Injil. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga jejak sejarah masuknya Injil sekaligus memastikan warisan sejarah dan iman tersebut dapat terus dikenang oleh generasi mendatang.

Pemerintah Provinsi Papua Barat juga mendorong agar momentum sejarah tersebut tidak hanya dipandang sebagai perayaan keagamaan, tetapi menjadi landasan untuk memperkuat toleransi, moralitas, persatuan, serta kemajuan masyarakat di Tanah Arfak. (jp/alb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Hati-hati salin tanpa izin kena UU no.28 Tentang Hak Cipta