Ekonomi & BisnisJayapuraPapuaPendidikanProvinsi Papua Barat

SIBATAS, Ruang Digital untuk Menggerakkan Ekonomi di Perbatasan RI-Papua Nugini

Manfaat SIBATAS tidak terbatas pada penyediaan informasi wisata. Platform tersebut juga diarahkan untuk membantu pedagang di Pasar Skouw, Indonesia, dan pasar di wilayah Wutung, Papua Nugini, memperluas jangkauan pemasaran produk mereka.

JAYAPURA, JAGATPAPUA.com — Kawasan perbatasan Indonesia-Papua Nugini (RI-PNG) tak hanya menjadi pintu lintas negara, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan melalui teknologi digital.

Berangkat dari gagasan itu, Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknik, Universitas Papua (Unipa) Manokwari berkolaborasi dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Internasional Papua (UIP) dan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw mengembangkan SIBATAS, Sistem Informasi Area Perbatasan.

Website SIBATAS dirancang sebagai ruang informasi digital untuk mendukung aktivitas wisata dan perdagangan di kawasan perbatasan. Platform ini menggunakan tiga bahasa, yakni bahasa Indonesia, Inggris, dan Tok Pisin, sehingga dapat diakses oleh masyarakat dari kedua negara, termasuk wisatawan dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Pengembangan SIBATAS merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) internasional yang dilaksanakan pada 15–17 Oktober 2026. Inisiatif ini menjadi tindak lanjut dari penyelenggaraan Border Trade Fair (BTF) pada 8–10 Oktober 2026, yang mempertemukan potensi perdagangan dan aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah perbatasan.

Ketua tim PkM Internasional Jurusan Teknik Informatika Unipa, Lion Ferdinand Marini mengatakan, pengembangan platform tersebut berangkat dari kebutuhan untuk memperluas akses informasi sekaligus membuka peluang pasar bagi pelaku usaha di kawasan perbatasan.

“Setelah Border Trade Fair, kami ingin menghadirkan sesuatu yang dapat mendukung aktivitas ekonomi digital dan mendorong pertumbuhan ekonomi kedua negara. Kami menawarkan ruang digital yang dapat diakses kapan saja dan dari mana saja oleh wisatawan yang sedang maupun akan berkunjung ke kawasan perbatasan,” ujarnya.

Menurut dia, manfaat SIBATAS tidak terbatas pada penyediaan informasi wisata. Platform tersebut juga diarahkan untuk membantu pedagang di Pasar Skouw, Indonesia, dan pasar di wilayah Wutung, Papua Nugini, memperluas jangkauan pemasaran produk mereka.

Melalui pemanfaatan ruang digital, pelaku UMKM diharapkan tidak hanya bergantung pada pembeli yang datang langsung ke pasar perbatasan. Mereka berpeluang menjangkau konsumen dari luar kawasan perbatasan, termasuk pembeli yang berada di luar Jayapura.

SIBATAS menyediakan fitur khusus bagi UMKM untuk mendukung aktivitas usaha. Platform ini juga menawarkan fitur perbandingan nilai tukar rupiah dan kina secara waktu nyata (real-time), mengikuti perubahan nilai mata uang. Fitur tersebut diharapkan memudahkan pengguna memahami perbandingan nilai kedua mata uang dalam transaksi lintas negara.

Penggunaan tiga bahasa menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan platform ini. Bahasa Indonesia dan Inggris dipadukan dengan Tok Pisin, bahasa yang digunakan secara luas di Papua Nugini, untuk memperluas akses informasi bagi pengguna dari latar belakang bahasa yang berbeda.

Di sisi lain, pengembangan SIBATAS diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pemerintah dan pengelola kawasan perbatasan. Data aktivitas wisata dan ekonomi yang dapat dihimpun melalui platform tersebut berpotensi menjadi bahan pendukung pemantauan serta evaluasi kegiatan di sekitar PLBN Skouw.

Tim PkM berharap SIBATAS dapat dimanfaatkan oleh PLBN Skouw serta Badan Pengelola dan Kerja Sama Perbatasan Provinsi Papua untuk membantu memetakan perkembangan aktivitas ekonomi dan kunjungan wisata di kawasan tersebut.

Namun, efektivitas pemanfaatan data itu akan bergantung pada implementasi sistem, kelengkapan informasi, dan pengelolaan data secara berkelanjutan.

Bagi Unipa dan mitra kolaborasinya, pengembangan SIBATAS menjadi salah satu upaya menerjemahkan keahlian akademik ke dalam solusi yang dapat digunakan masyarakat.

Teknologi informasi ditempatkan bukan sekadar sebagai sarana penyebaran informasi, melainkan juga sebagai instrumen untuk memperluas akses pasar dan memperkuat hubungan ekonomi masyarakat di kedua sisi perbatasan.

Keberlanjutan platform tersebut akan menjadi tantangan berikutnya. Pembaruan informasi, partisipasi pelaku UMKM, serta dukungan pemangku kepentingan diperlukan agar SIBATAS tidak berhenti sebagai produk kegiatan pengabdian, tetapi berkembang menjadi ruang digital yang benar-benar digunakan masyarakat.

Di tengah peluang perdagangan lintas negara, SIBATAS menawarkan satu pendekatan membawa aktivitas ekonomi perbatasan ke ruang digital agar potensi lokal dapat dikenal lebih luas dan peluang usaha masyarakat tidak dibatasi oleh jarak geografis.(jp/alb).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Hati-hati salin tanpa izin kena UU no.28 Tentang Hak Cipta