
MANOKWARI,JAGATPAPUA.com – The 12th International Flora Malesiana Symposium yang dirangkaikan dengan International Nature-Based Climate Solution Conference resmi dibuka di Papua Barat sebagai agenda utama Biocultural and Climate Week Papua 2026. Kegiatan ilmiah internasional ini digelar selama lima hari, mulai 9 hingga 14 Februari 2026.
Pembukaan kegiatan berlangsung di Gedung PKK Arfai, Manokwari, Senin (09/02/2026), dan dihadiri oleh Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan, jajaran Forkopimda Papua Barat, Bupati Kabupaten Teluk Wondama, serta para tamu undangan dan peserta dari berbagai negara.
Ketua Panitia, Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut., M.Si., FLS, dalam laporannya menyampaikan bahwa International Flora Malesiana Symposium merupakan forum ilmiah prestisius yang diselenggarakan setiap tiga tahun sekali dan tahun ini untuk pertama kalinya digelar di Tanah Papua.
“Ini merupakan momentum penting karena Papua atau Pulau New Guinea, berdasarkan hasil riset ilmiah, merupakan wilayah dengan keanekaragaman tumbuhan berkumbuluh tertinggi di dunia,” ujar Prof. Charlie.
Ia menjelaskan, penyelenggaraan International Nature-Based Climate Solution Conference bertujuan menjembatani hasil-hasil riset ilmiah agar dapat diimplementasikan dalam kebijakan pembangunan. Upaya tersebut diarahkan untuk memperkuat ketahanan terhadap krisis iklim sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya masyarakat adat.
Rangkaian konferensi dilaksanakan dalam bentuk simposium dan seminar ilmiah sebagai agenda utama, yang dilengkapi dengan sejumlah side event, seperti pemutaran film bertema lingkungan, talkshow isu keanekaragaman hayati dan masyarakat adat, pameran foto, serta ekshibisi konservasi keanekaragaman hayati.
Prof. Charlie melaporkan, jumlah peserta yang terdaftar mencapai sekitar 300 orang, dengan 142 peserta mendaftar secara daring. Dari jumlah tersebut, 53 peserta merupakan peserta internasional yang berasal dari 16 negara, di antaranya Amerika Serikat, Australia, Belanda, Brasil, Inggris, Jerman, Prancis, Kanada, Jepang, Papua Nugini, serta Indonesia sebagai tuan rumah.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini menghadirkan 7 sesi pleno dengan sekitar 15 narasumber nasional dan internasional, 28 sesi panel yang membahas lebih dari 100 makalah ilmiah, serta 17 presentasi poster yang mengangkat tema keanekaragaman tumbuhan dan solusi iklim berbasis alam.
Menurutnya, forum ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor, baik lokal, nasional, maupun internasional, dalam menghadapi berbagai krisis global, seperti hilangnya keanekaragaman hayati, perubahan iklim, polusi, krisis energi, hingga ancaman ketahanan pangan.
“Kegiatan ini tidak akan dapat terselenggara tanpa dukungan berbagai pihak,” ungkap Prof. Charlie.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat, Universitas Papua, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Centre for Nature-Based Climate Solutions Universitas Nasional Singapura, Flora Malesiana Foundation, serta para mitra pembangunan yang bergerak di bidang konservasi dan pembangunan berkelanjutan.
Diharapkan, hasil dari simposium dan konferensi ini dapat menghasilkan rekomendasi strategis yang bermanfaat bagi perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan pembangunan berkelanjutan, baik di tingkat daerah maupun nasional. (jp/jn)








