Rumah Kaki Seribu, Jejak Kehidupan Orang Arfak yang Memikat Turis Polandia

ANGGI,JAGATPAPUA.com— Belasan turis asal Polandia tak sekadar menjadi penonton, tetapi terlibat langsung dalam setiap atraksi budaya Suku Arfak yang dipertunjukkan selama dua hari di Kampung Udohotma, Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat.
Di tengah alam pegunungan yang sejuk, mereka belajar, merasakan, dan menyatu dengan kehidupan masyarakat adat Arfak yang masih memegang teguh nilai-nilai leluhur.
Masyarakat Udohotma berasal dari Suku Sougb, bagian dari suku besar Arfak yang mendiami wilayah Pegunungan Arfak. Kehidupan mereka lekat dengan alam, adat istiadat, dan filosofi hidup yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Beragam aktivitas budaya yang ditampilkan bukan sekadar kegiatan fisik, melainkan sarat nilai pendidikan karakter, kebersamaan, serta penghormatan kepada alam dan leluhur. Wisatawan diajak menyelami langsung proses kehidupan masyarakat Arfak, mulai dari mengenal rumah adat, membuat noken, korek api tradisional, panah, busur dan jubi, berkebun, hingga mengikuti simulasi perkawinan adat dan tarian Tumbuk Tanah.
Seluruh aktivitas ini kemudian dikemas dalam sebuah paket wisata budaya, yang kini mulai diperkenalkan ke dunia dan menyasar wisatawan lokal hingga turis mancanegara.

Tour Agent Polandia, Mr. Michel mengaku sangat menyukai budaya Suku Arfak yang unik dan tidak dimiliki oleh daerah lain di Indonesia bahkan dunia.
“Kami sangat menikmati kehidupan masyarakat di sini, mereka sangat ramah dan menjunjung kebersamaan, dalam melakukan aktivitas mereka,”kata Mr. Michel.
Rumah Kaki Seribu, Simbol Kehidupan Orang Arfak
Salah satu daya tarik utama dalam wisata budaya ini adalah Rumah Adat Kaki Seribu, atau dalam bahasa lokal disebut Mod Aki Aksa. Rumah adat ini berbentuk rumah panggung dengan banyak tiang penyangga yang rapat, menyerupai kaki seribu.
Rumah Kaki Seribu dibangun dari kayu-kayu pilihan seperti Kayu Besi (Ironwood), Kayu Merbau, serta berbagai jenis kayu lokal berkualitas tinggi yang tahan rayap, lembap, dan dapat bertahan hingga puluhan tahun. Atapnya terbuat dari ilalang atau daun sagu, berdinding kayu, berlantai anyaman rotan atau bambu, tanpa jendela dan hanya memiliki dua pintu.
Desain rumah ini bukan tanpa alasan. Selain menjaga kehangatan di dataran tinggi yang dingin, struktur panggung dan tiang-tiang rapat berfungsi melindungi penghuni dari hewan buas, banjir, serta ancaman musuh pada masa lalu. Kondisi tanah Pegunungan Arfak yang lembap dan tidak rata juga menuntut rumah ditopang banyak tiang agar tetap stabil.

Bagi masyarakat Arfak, kayu yang digunakan bukan sekadar bahan bangunan. Mereka meyakini bahwa kayu dari hutan sekitar mengandung “roh alam” yang memberikan perlindungan bagi penghuninya. Karena itu, pemilihan kayu tidak boleh sembarangan. Biasanya, kayu diambil dari pohon yang telah tua agar lebih kuat dan awet, serta melalui izin adat.
Proses Pembangunan Sarat Nilai Kebersamaan
Pembangunan Rumah Kaki Seribu dilakukan secara manual tanpa alat modern dan dapat memakan waktu beberapa minggu hingga berbulan-bulan, tergantung ukuran rumah dan ketersediaan bahan. Proses ini dikerjakan secara gotong royong oleh keluarga besar dan masyarakat sekitar.
Tidak semua orang bebas membangun rumah adat. Orang tua adat berperan penting dalam memberikan izin dan menentukan hari baik untuk memulai pembangunan. Model rumah sesungguhnya hanya diketahui oleh para tetua adat, sementara generasi muda kini mulai berkurang pengetahuannya.
Secara simbolik, banyaknya tiang pada rumah melambangkan kebersamaan, kekuatan, dan solidaritas antar anggota keluarga. Masyarakat Arfak meyakini bahwa hidup tidak bisa dijalani sendiri, tetapi harus saling menopang satu sama lain.
Fungsi dan Ragam Rumah Adat
Rumah adat Arfak tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal. Terdapat beberapa jenis rumah dengan fungsi berbeda, seperti rumah keluarga, rumah kecil khusus persalinan perempuan (Tombro), rumah penyimpanan hasil kebun, serta rumah adat untuk musyawarah.
Perbedaan ini terlihat dari ukuran, bentuk, dan letaknya. Namun, seluruhnya tetap berlandaskan filosofi yang sama: hidup selaras dengan alam dan menjunjung tinggi kebersamaan.
Tantangan di Tengah Modernisasi
Di tengah perkembangan zaman, keberadaan Rumah Kaki Seribu mulai menghadapi tantangan. Ketersediaan kayu semakin terbatas, biaya pembangunan meningkat, dan pola hidup modern mendorong masyarakat beralih ke rumah beton.
Jika dibandingkan dengan rumah modern, yang perlahan hilang adalah nilai kebersamaan. Rumah Kaki Seribu bersifat terbuka, menjadi ruang keluarga untuk makan bersama, bercerita, dan menerima nasihat secara terbuka sebelum tidur. Nilai-nilai inilah yang membentuk karakter orang Arfak sejak kecil.
Sebaliknya, rumah modern dengan kamar-kamar terpisah dinilai mengikis kebersamaan dan membuat hubungan antar anggota keluarga menjadi lebih tertutup.
Meski demikian, beberapa kampung di Pegunungan Arfak tetap mempertahankan Rumah Kaki Seribu sebagai identitas budaya dan simbol kehidupan orang Arfak: tentang kebersamaan, saling tolong-menolong, keberlanjutan, serta hidup selaras dengan alam.
Melalui wisata budaya, masyarakat Udohotma berharap nilai-nilai luhur ini tidak hanya bertahan, tetapi juga dikenal dan dihargai oleh dunia.
Ketua AMIN Kabupaten Pegunungan Arfak, Barto Inden mengajak seluruh masyarakat Arfak tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Budaya dan tetap melestarikannya. Sehingga dapat dinikmati oleh generasi muda Arfak kedepan.
“Kami pemuda Arfak berkomitmen untuk tetap menjaga dan melestarikan budaya dan Alam kita. Supaya kedepan tidak hanya turis Polandia tapi juga turis-turis dari berbagai negara juga datang dan menikmati wisata Budaya dan Alam Suku Arfak di Pegunungan Arfak ini,”kata Barto. (jp/red)





