MANOKWARI,JAGATPAPUA.com – Papua memiliki kekayaan keanekaragaman hayati (biodiversity) yang sangat besar dan strategis bagi Indonesia, bahkan dunia.
Hal tersebut disampaikan Prof. Janta Supriatna, Ph.D, saat menjadi key speaker dalam kegiatan Celebrating The World’s Richest Island hari kedua yang digelar di Hotel Swiss-Belhotel Manokwari, Selasa (10/02/2026).
Prof. Janta menegaskan bahwa sekitar 50 persen keanekaragaman hayati Indonesia berada di Papua, sehingga seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah dalam melihat Papua sebagai aset nasional yang sangat berharga.
“Papua itu bukan hanya soal hutan yang indah. Papua adalah aset besar Indonesia. Di sini ada sumber daya obat-obatan, pertanian, pangan, dan berbagai sumber daya hayati lainnya yang belum tergali secara optimal,” ujar Prof. Janta.
Ia mencontohkan sejumlah komoditas penting dunia yang berasal dari Papua, salah satunya tebu, serta kekayaan varietas pisang Papua yang memiliki keragaman dan kualitas sangat tinggi dibandingkan daerah lain di Indonesia.
“Di mana lagi di Indonesia kita bisa menemukan keragaman pisang seperti di Papua? Ini menunjukkan bahwa Papua memang saat ini harus masuk pada era melestarikan alam, sambil melakukan kajian ilmiah untuk kesejahteraan manusia,” jelasnya.
Menurut Prof. Janta, paradigma lama yang hanya memandang biodiversity sebagai objek konservasi semata harus diubah. Keanekaragaman hayati harus mampu memberikan nilai ekonomi yang nyata melalui konsep ekonomi hijau yang berkelanjutan.
“Biodiversity itu jangan hanya dipuji bagus dan indah saja, tetapi harus bisa memberi manfaat ekonomi. Sekarang tren dunia adalah ekonomi hijau, dan Papua sangat siap untuk itu,” tegasnya.
Ia menyoroti kekayaan 37 spesies burung Cendrawasih (bird of paradise) yang dimiliki Papua. Menurutnya, pengelolaan pariwisata berbasis alam dan konservasi dapat memberikan dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat Papua.
“Bayangkan jika ribuan orang datang ke Papua hanya untuk melihat Cendrawasih. Efek ekonominya sangat besar. Ini yang harus kita kembangkan,” katanya.
Menanggapi pertanyaan wartawan terkait pembangunan kelapa sawit di Papua Barat, Prof. Janta mengungkapkan bahwa saat ini sekitar 70 persen wilayah Papua Barat masih berupa kawasan hijau, sehingga perlu kehati-hatian dalam mengambil kebijakan pembangunan.
Ia mengingatkan pemerintah agar tidak mengulangi kesalahan masa lalu, seperti yang terjadi pada komoditas cengkeh yang sempat menjadi primadona namun kemudian mengalami kejatuhan.
“Kelapa sawit sekarang memang komoditas unggulan. Tapi kita harus belajar. Kalau nanti negara lain seperti Brasil memproduksi dua kali lipat dari Indonesia, kita bisa kolaps lagi,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa pembangunan di Papua harus benar-benar mengedepankan prinsip keberlanjutan (sustainability), dengan menggeser arah pembangunan ke sektor-sektor ekonomi hijau yang ramah lingkungan dan berjangka panjang.
“Mindset kita harus berubah. Biodiversity Papua itu bukan beban, tetapi prospek besar ekonomi hijau untuk masa depan,” pungkasnya. (jp/jn)








