Papua Barat Produktif Berbuah Manis, Kampung Udohotma Jual Paket Wisata Budaya Ke Turis Polandia

MANOKWARI,JAGATPAPUA.com– Program Papua Barat Produktif yang digagas Pemerintah Provinsi Papua Barat mulai menunjukkan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya di sektor pariwisata.
Salah satu hasil positif terlihat di Kampung Udohotma, Distrik Sururey, Kabupaten Pegunungan Arfak. Kampung binaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Papua Barat ini berhasil menjual 8 paket wisata budaya senilai Rp50 juta kepada 14 wisatawan asal Polandia pada awal tahun 2026.
Program tersebut mulai dicetuskan oleh Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan, pada tahun anggaran 2024 dan kemudian ditindaklanjuti melalui berbagai program kerja Disbudpar Papua Barat, termasuk pelatihan dan pendampingan masyarakat.
Anak asli Udohotma, Barto Inden, Selasa (20/1/2026), menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat atas pembinaan yang telah diberikan selama kurang lebih satu tahun terakhir.
“Terima kasih kepada pemerintah, khususnya Disbudpar Papua Barat, serta seluruh masyarakat Udohotma yang bersama-sama mempersiapkan paket wisata budaya hingga prosesi penjemputan wisatawan asing,” ujar Barto.
Ia mengakui, penjualan paket wisata tersebut memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan ekonomi masyarakat setempat.
“Paket wisata ini dibayar tunai, senilai Rp50 juta untuk delapan paket wisata budaya. Ini sangat membantu ekonomi masyarakat Udohotma,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Papua Barat melalui Kepala Seksi Kelembagaan dan Pemberdayaan Masyarakat, Rozene Sanchia H. Patay, mengatakan pendampingan pemerintah provinsi di Kampung Udohotma baru dimulai pada tahun 2024.
“Pada tahun 2024 kami masuk dengan satu pelatihan. Setelah itu, masyarakat kami dampingi untuk menyiapkan paket wisata budaya hingga memahami pengelolaannya,” ungkap Rozene.
Ia menjelaskan, salah satu warga lokal, Hans Mandacan, yang sebelumnya berperan sebagai pemandu wisata, kini berkembang menjadi agen lokal yang mampu menjual paket wisata secara mandiri melalui platform digital. Bahkan, dalam waktu satu minggu, agen internasional telah membeli 13 paket wisata budaya untuk wisatawan asing.
“Keberhasilan ini datang dari masyarakat sendiri. Pemerintah hanya hadir melalui pelatihan dan pendampingan, bukan mengambil alih,” tegas Rozene.
Menurutnya, Kampung Udohotma menjadi kampung pertama di Pegunungan Arfak yang dipersiapkan secara khusus sebagai destinasi wisata budaya, dengan kekuatan utama pada budaya Suku Arfak yang masih terjaga.
“Tujuan akhirnya bukan sekadar kunjungan wisata, tetapi menjaga agar budaya tetap hidup dan menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Wisata budaya menjadi alternatif ekonomi tanpa menghilangkan identitas,” katanya.
Selain wisata budaya, wisatawan juga dijadwalkan mengunjungi Kampung Kobrey untuk menikmati keindahan alam dan danau sebagai bagian dari rangkaian perjalanan wisata.
Kunjungan wisatawan mancanegara ini direncanakan mulai berlangsung pada 22 Januari 2026. Pemerintah Provinsi Papua Barat juga telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Pegunungan Arfak untuk memastikan dukungan penuh terhadap kegiatan tersebut.
“Ini menjadi awal kebangkitan pariwisata Pegunungan Arfak, dengan masyarakat sebagai tuan rumah dan subjek utama pembangunan pariwisata,” tutup Rozene.(jp/ask).





